Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Surat Terakhir untuk Lia Yulianti

  Malam itu, hujan turun pelan-pelan, membasahi atap seng yang sudah karatan. Di dalam gubuk tua yang nyaris roboh, seorang pemuda bernama Arman duduk sendirian. Di tangannya tergenggam sebuah kertas lusuh dan bolpoin yang tintanya hampir habis. Ia menatap kosong, lalu mulai menulis dengan tangan gemetar. “Maafkan aku, Lia…” Arman berhenti sejenak. Nama itu membuat dadanya terasa sesak. Lia—wanita yang pernah ia yakini sebagai cahaya hidupnya. Seorang perempuan cantik, pintar, dan penuh senyum. Lia tidak pernah memandang rendah dirinya meski ia hanyalah seorang pemuda miskin yang bekerja serabutan. Justru Lia yang selalu memberi semangat, selalu menanyakan kabar, dan menunggu Arman setiap sore di taman kecil dekat pasar. Tapi Arman tahu, cintanya pada Lia adalah kemewahan yang tak pantas ia genggam. Bukan karena Lia salah, tapi karena dirinya sendiri. Hidupnya hanyalah sisa-sisa mimpi yang patah. Ia tinggal di gubuk tua milik seorang kerabat jauh, menumpang hidup tanpa kepast...

Cinta di Balik Hujan

Di sebuah sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, tinggal seorang pemuda miskin bernama Raka. Ia hidup sebatang kara di gubuk reyot peninggalan orang tuanya yang telah lama tiada. Setiap pagi, ia memungut sampah, mengumpulkan botol plastik, atau menawarkan jasa membersihkan selokan hanya demi sesuap nasi. Namun, meski hidupnya keras, hati Raka tetap lembut. Di tengah kekacauan dunia, ia menyimpan satu perasaan suci—cinta. Cinta yang diam-diam ia pelihara untuk seorang gadis bernama Laras. Laras adalah anak pengusaha kaya di kota itu. Cantik, anggun, dan selalu ramah kepada siapa pun. Raka pertama kali melihat Laras saat ia sedang duduk di taman kota, membaca buku di bawah pohon. Sejak saat itu, Laras menjadi matahari di dunia kelabu Raka. Ia mulai sering datang ke taman hanya untuk melihat senyum gadis itu dari kejauhan. Tak pernah berani mendekat, apalagi menyapa. Ia tahu diri. Tapi hati manusia tak bisa terus bersembunyi. Suatu sore, ketika hujan turun deras dan taman mula...

Dalam Setetes Darah Ada Namamu

  Hari itu langit tampak biasa saja—tidak terlalu cerah, juga tidak gelap. Tapi entah mengapa, bagiku hari itu seperti menyimpan sesuatu yang berbeda. Mungkin karena kami sekelas dijadwalkan praktik biologi tentang golongan darah di laboratorium. Atau mungkin, karena Ita Rosita—teman sekelasku yang diam-diam kerap menyita pikiranku—akan ada di sana. Ita Rosita. Nama itu saja sudah seperti puisi. Dia bukan hanya cantik dari wajah, tapi juga dari cara dia bersikap—lembut, hangat, dan selalu menyimpan senyum yang entah kenapa membuat dadaku sesak setiap kali melihatnya. Kami duduk berpasangan. Kebetulan? Atau semesta memang sedang berpihak padaku? Pak Undang hartono, guru biologi kami, memberikan instruksi bagaimana cara menusuk jari menggunakan jarum dan serum untuk mengeluarkan darah, lalu meneteskannya ke tiga wadah uji untuk mengetahui golongan darah kami masing-masing. Aku memerhatikan, mencoba fokus, padahal otakku lebih sibuk memikirkan tangan siapa yang nanti akan aku pe...

Harimau Yang Egois

Di dalam hutan, tidak pernah ada sebuah pemilihan, tidak pernah ada musyawarah, apalagi pemungutan suara untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin. Hutan hidup dengan hukum alamnya sendiri, di mana setiap makhluk memiliki peran, keseimbangan, dan jalannya masing-masing. Namun, harimau sering kali disebut-sebut sebagai “raja hutan.” Julukan itu lahir bukan karena kesepakatan seluruh penghuni hutan, melainkan karena sifatnya yang kuat, berani, dan ditakuti. Masalahnya, harimau kadang menjadi terlalu egois. Ia menganggap dirinya penguasa, seakan-akan seluruh isi hutan adalah miliknya. Ia berjalan dengan angkuh, menebar teror dengan cakarnya, dan merasa berhak menentukan aturan tanpa mendengar suara makhluk lain. Padahal, kera, gajah, burung, rusa, bahkan semut pun punya peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan. Jika hutan bisa berbicara, mungkin ia akan menegur harimau: “Wahai harimau, engkau memang kuat, tetapi kekuatan bukanlah alasan untuk menyebut dirimu raja. Tidak ada satup...

Janji yang Terlambat

  Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Raka . Ia dikenal sederhana, pekerja keras, namun hidupnya selalu bergelut dengan hutang peninggalan keluarganya. Meski begitu, hatinya hanya terpaut pada seorang gadis desa bernama Alya . Suatu malam, di bawah cahaya bulan, Raka berjanji pada Alya: "Beri aku satu tahun, Alya. Aku akan melunasi semua hutangku, membangun rumah yang layak, lalu aku akan datang menjemputmu dengan terhormat sebagai istriku." Alya mendengar kata-kata itu, tapi keraguan menyelimuti hatinya. Baginya, janji tanpa bukti hanya omong kosong. Keluarganya pun menentang hubungan mereka. "Apa yang bisa dijanjikan oleh lelaki miskin? Masa depanmu akan suram, Alya," kata ayahnya tegas. Hari demi hari, bulan berganti. Raka bekerja tanpa lelah. Ia merantau ke kota, menjadi buruh kasar, menahan lapar, bahkan tidur di emperan pasar. Semua itu ia lakukan demi janjinya. Namun di sisi lain, Alya merasa penantian hanya menambah luka. Seorang...

Rahasaia Cinta Ibu dan Putrinya

  Di suatu siang yang sunyi, aku duduk sendirian di ruang kantor. Ruangan itu terasa begitu hening, hanya suara jam dinding yang terdengar berulang, seakan menghitung setiap detik kesendirianku. Saat itu, pintu perlahan terbuka, dan masuklah seorang ibu wali murid. Beliau tersenyum kecil, senyum yang seakan menyembunyikan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Aku menyapanya dengan sopan, tak pernah menduga bahwa pertemuan singkat itu akan meninggalkan jejak mendalam di hatiku. Tanpa banyak basa-basi, ibu itu duduk di hadapanku. Matanya tampak berkaca-kaca, dan suaranya bergetar saat ia mulai berbicara. “Nak, sebenarnya… ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan sejak lama,” katanya lirih. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya, mencoba menebak ke mana arah pembicaraannya. Lalu dengan napas tertahan, ia melanjutkan, “Sebenarnya… ibu berencana untuk menjodohkan putriku denganmu.” Kata-kata itu membuat dadaku sesak seketika. Aku terdiam, mencoba mencerna. “Sayang,” ucapnya lagi, “putri...

KEPALSUAN CINTA

Cekdam Aku datang padamu dengan hati penuh sayang. Semua yang kupunya, yang tak seberapa, kuberikan dengan tulus. Kau sambut perasaanku, dan aku kira itu adalah awal dari kebahagiaan. Aku percaya pada senyummu, pada genggaman tanganmu, pada setiap kata manis yang keluar dari bibirmu. Aku kira cintamu sejujur cintaku. Hari-hari pertama bersama denganmu terasa indah. Kita berjalan berdua di jalanan kecil, bercanda, tertawa, seakan dunia ini hanya milik kita. Kau sering berkata, “Aku bahagia bersamamu, meski kau sederhana.” Dan aku percaya. Aku tidak pernah meragukanmu, karena aku tahu aku mencintaimu tanpa syarat. Namun perlahan, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda. Senyummu yang dulu hangat, kini terasa dingin. Tatapanmu yang dulu penuh cinta, kini sering kosong. Kau mulai sibuk, sering beralasan tak bisa bertemu. Dan saat kita berjumpa, aku melihat matamu seakan menyimpan sesuatu yang tak pernah kau katakan. Hingga akhirnya aku tahu. Semua itu hanya pura-pura. Cintamu hanyalah...

Guru Berumah Bilik Bambu Yang Dianggap Tidak Bermutu

Namanya Pak Ramli. Seorang guru honorer di sebuah kampung, tinggal di sebuah rumah kecil berdinding bilik bambu, berlantaikan tanah, dan beratapkan genting   tua yang mulai berwarna hitam dan pecah. Ia tidak punya motor, apalagi mobil. Setiap hari, Pak Ramli berjalan kaki menyusuri jalan berbatu sejauh 1 kilometer menuju sekolah tempatnya mengajar. Bukan hanya murid-murid yang sering memperhatikan penampilannya yang sederhana, tapi juga rekan-rekannya sesama guru. Ada yang mencibir, ada pula yang meremehkan. “Guru kok kere,” bisik-bisik mereka. Bahkan beberapa rekan guru ada yang menyuruh untuk kredit motor . Dalam urusan cinta, nasibnya pun tak lebih baik. Beberapa kali ia mencoba membuka hati kepada perempuan yang ia sukai, namun semuanya menolak dengan alasan yang tidak pernah dikatakan secara langsung—kemiskinan. Namun, ada satu hal yang tak bisa diremehkan dari diri Pak Ramli: semangatnya. Ia adalah sosok yang tegas dan lugas dalam mendidik. Disiplin adalah prinsip hid...

Rapat ujian mi Cijulang

 

Dongeng Monyet dan Kura-kura

Di sebuah hutan yang jauh, hiduplah seorang monyet yang sangat cerdik dan suka sekali menggoda hewan-hewan lain. Suatu hari, ia bertemu dengan seekor kura-kura yang sedang berjalan lambat-lambat di pinggir sungai. Monyet yang sombong itu mengejek kura-kura, "Hei, kenapa kamu berjalan begitu lambat? Ayo berlomba denganku, siapa yang bisa mencapai ujung sungai lebih cepat!" Kura-kura tersenyum sambil menjawab, "Baiklah, saya siap. Tapi bagaimana kita bisa yakin bahwa kamu tidak akan menipu?" Monyet itu tertawa keras, "Ah, aku pasti akan menang! Tidak ada yang bisa mengalahkan kecepatan dan kecerdasanku." Kura-kura kemudian menyarankan untuk melakukan perlombaan tersebut dengan syarat, "Kamu harus menunggu di tepi sungai, sementara aku akan berenang melewati sungai. Kita akan melihat siapa yang lebih cepat mencapai ujung sana." Monyet merasa yakin bahwa dia akan dengan mudah menang, jadi ia setuju tanpa berpikir panjang. Mereka berdiri di tepi sunga...

KELINCI DAN KURA -KURA

 Di sebuah hutan yang damai, hiduplah seekor kelinci yang sangat sombong. Ia sering membanggakan kecepatan larinya kepada hewan-hewan lain di hutan. "Aku adalah yang tercepat di hutan ini!" kata kelinci dengan sombong. Suatu hari, kelinci bertemu dengan kura-kura. Kelinci mulai mengejek kura-kura karena jalannya yang lambat. "Hai, kura-kura, kenapa kau begitu lambat? Dengan kecepatanku, aku bisa berlari mengelilingi hutan berkali-kali sementara kau baru menyelesaikan satu langkah!" Kura-kura, yang meskipun lambat namun bijaksana, menanggapi dengan tenang, "Kelinci, meskipun aku lambat, aku yakin ketekunan dan kesabaran bisa membuahkan hasil. Bagaimana kalau kita berlomba untuk membuktikan siapa yang benar?" Kelinci tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan kura-kura. "Kau ingin berlomba denganku? Baiklah, aku akan menerima tantanganmu!" Mereka pun sepakat untuk berlomba keesokan harinya, dengan rute yang sudah ditentukan. Ketika perlombaan dimul...

Tebing Di Ujung Gang Bagian Tiga Belas

  13. Mandi Cahaya  Mungkin inilah perjalan   panjang cinta kami   harus terhempas berpisah satu sama lain   tapi masih tuhan berikan    jalan agar kami bersatu kembali dalam   ikatan cinta, kami melansungkan   pernikahan kembali   di kantor urusan agama   dengan tidak mengadakan resepsi pernikahan yang mewah. Yang ikut hadir waktu itu hanya   beberapa orang     diantaranya saksi   nikah dari keluarga Mey dan aku     yang ikut ada Ana   anakku   jadi   kami dinikahkan kembali di   KUA . Setelah akad nikah berlangsung   kami pulang   ke rumah ku. Kami mengadakan syukuran atau walimah secara sederhana   dengan acara do`a bersama dengan mengundang para sahabat dan tetangga. Walau walimah itu sangat sederhana tapi untuk   kami   sangat bermakna. Tidak henti - hentinya kami berucap syukur   kepada Tuhan yang maha rohman   kami dipertemukan ke...

Tebing Di Ujung Gang Bagian Dua Belas

                                                             12.Cerita satu malam Sungguh   belum pernah merasakan   perasaan pada saat ini di mana aku    bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Sepuluh tahun   berpisah   dan hanya merasakan rindu, resah gelisah yang tidak pernah musnah. Rindu yang sudah menggunung    kini mencair. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya bersyukur. Tak henti hentinya   aku bersyukur kepada Tuhan yang maha Rohman   atas nikmat yang diberikan. Rasanya bahagia hidupku dengan pertemuan kembali cinta sejati. Seakan   hidupku terang kembali   tersinari dengan pertemuan. Malam itu aku duduk di ruang tamu berdua hanya bercerita. Menikmati sejuta rasa yang penuh dengan   warna. Malam semakin larut, selarut perasaan kami berdua. Begitu ...

Tebing Di Ujung Gang Bagian Sebelas

  11. aku bukan yang dulu Pertemuan   yang sangat dramatis itu sangat melelahkan, sampai aku lupa makan. Kuajak mereka   makan dulu di sebuha restoran mewah karena yakin mereka juga lapar belum makan. Sepertinya Mey dan Ana tidak pernah datang ke tempat ini. Karena terlihat dari sikap dia hanya bengong saja. Sengaja aku   bawa mereka ke sini   karena mereka adalah sangat istimewa dalam hidupku. Berapun uang aku terkuras untuk mereka aku rela dan sangat puas ketika melihat mereka tersenyum bahagia. Hari   ini,hari   special dan istimewa buat kami bertiga. Aku pesan makanan yang istimewa untuk orang – orang yang aku cintai. Aku katakana kepada mereka jangan bengong dan diam saja. Pilih makanan yang paling istimewa di restoran ini. Soal haraga aku tidak peduli gajih sebulan habis sehari aku tidak peduli yang penting mereka senang dan bahagia. Ana yang mungkin   tidak terbiasa makan sepeti itu ,dia sangat lahap sekali makannya. Berbeda dengan Me...