Malam itu, hujan turun pelan-pelan, membasahi atap seng yang sudah karatan. Di dalam gubuk tua yang nyaris roboh, seorang pemuda bernama Arman duduk sendirian. Di tangannya tergenggam sebuah kertas lusuh dan bolpoin yang tintanya hampir habis. Ia menatap kosong, lalu mulai menulis dengan tangan gemetar. “Maafkan aku, Lia…” Arman berhenti sejenak. Nama itu membuat dadanya terasa sesak. Lia—wanita yang pernah ia yakini sebagai cahaya hidupnya. Seorang perempuan cantik, pintar, dan penuh senyum. Lia tidak pernah memandang rendah dirinya meski ia hanyalah seorang pemuda miskin yang bekerja serabutan. Justru Lia yang selalu memberi semangat, selalu menanyakan kabar, dan menunggu Arman setiap sore di taman kecil dekat pasar. Tapi Arman tahu, cintanya pada Lia adalah kemewahan yang tak pantas ia genggam. Bukan karena Lia salah, tapi karena dirinya sendiri. Hidupnya hanyalah sisa-sisa mimpi yang patah. Ia tinggal di gubuk tua milik seorang kerabat jauh, menumpang hidup tanpa kepast...