Skip to main content

Dalam Setetes Darah Ada Namamu

 


Hari itu langit tampak biasa saja—tidak terlalu cerah, juga tidak gelap. Tapi entah mengapa, bagiku hari itu seperti menyimpan sesuatu yang berbeda. Mungkin karena kami sekelas dijadwalkan praktik biologi tentang golongan darah di laboratorium. Atau mungkin, karena Ita Rosita—teman sekelasku yang diam-diam kerap menyita pikiranku—akan ada di sana.

Ita Rosita. Nama itu saja sudah seperti puisi. Dia bukan hanya cantik dari wajah, tapi juga dari cara dia bersikap—lembut, hangat, dan selalu menyimpan senyum yang entah kenapa membuat dadaku sesak setiap kali melihatnya.

Kami duduk berpasangan. Kebetulan? Atau semesta memang sedang berpihak padaku?

Pak Undang hartono, guru biologi kami, memberikan instruksi bagaimana cara menusuk jari menggunakan jarum dan serum untuk mengeluarkan darah, lalu meneteskannya ke tiga wadah uji untuk mengetahui golongan darah kami masing-masing. Aku memerhatikan, mencoba fokus, padahal otakku lebih sibuk memikirkan tangan siapa yang nanti akan aku pegang. Dan benar saja—tiba giliranku, dan Ita duduk tepat di sampingku, menatapku sambil mengangkat alis.

"Kamu duluan, ya," katanya ringan.

Aku mengangguk. Dengan sedikit gemetar, aku tusuk jariku. Setetes darah merah mengalir. Mudah. Tak ada masalah. Tapi momen berikutnya adalah yang paling tidak kuduga. Ita, tanpa ragu, mengulurkan tangannya padaku.

“Gantian. Kamu aja yang tusuk. Aku takut salah,” ujarnya pelan.

Aku tertegun. Jantungku berdetak lebih cepat. Tanganku gemetar ketika menyentuh jemarinya yang halus. Kulitnya putih bersih, begitu lembut. Seolah aku menyentuh sesuatu yang suci, yang tak pantas disentuh olehku. Tapi dia tersenyum, menenangkanku.

“Pelan, ya…” bisiknya.

Aku mengangguk, dan dengan sangat hati-hati, kutusukkan jarum itu ke ujung jarinya. Ia meringis pelan, lalu menggigit bibirnya karena menahan sakit. Tapi kemudian, dia menatapku... dan tersenyum. Senyum itu... bukan hanya sekadar terima kasih. Ada sesuatu di balik senyum itu yang membuat waktu seperti berhenti. Senyum yang menyampaikan rasa percaya. Dan mungkin... sesuatu yang lebih dari itu.

Darahnya menetes ke atas kaca uji, tapi yang tertinggal di tanganku adalah rasa yang sulit dijelaskan. Hangat. Aneh. Tapi indah.

"Terima kasih, ya," katanya pelan sambil menarik tangannya kembali.

Aku hanya mengangguk. Tapi hatiku menjerit, ingin berkata lebih dari itu. Ingin bilang bahwa detik tadi adalah detik paling berharga dalam hidupku. Bahwa aku ingin memegang tangannya lagi—bukan untuk menusuk jarinya, tapi untuk menggenggamnya... selamanya.

Sejak hari itu, aku tak pernah bisa melupakan kejadian itu. Dalam setetes darahnya, aku menemukan sesuatu. Bukan sekadar hasil golongan darah—tapi sebuah perasaan yang perlahan tumbuh dan tak bisa dihentikan.

Malam itu, aku menulis di buku catatanku:

"Hari ini aku menyentuh tangannya. Menyentuh hatiku. Dan tanpa sadar, aku mulai menyimpan harapan. Bahwa mungkin... suatu hari nanti, aku bisa menyentuh hidupnya lebih dalam lagi."

 

Comments

Popular posts from this blog

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...

GALERI FOTO KEGIATAN HUT RI KE-81 MI CIJULANG

Dokumentasi kemeriahan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di MI Cijulang. Berbagai kegiatan berlangsung dengan penuh semangat, keceriaan, dan kebersamaan seluruh siswa serta warga sekolah. “Semangat Kemerdekaan, Semangat Belajar, Semangat Meraih Prestasi.” Dirgahayu Republik Indonesia ke-81