Langsung ke konten utama

Postingan

Keseharian yang Indah

Oleh :Kasya Syafiyah Ahmad kelas 5 MI Cijulang Pagi hari dimulai saat matahari terbit dari timur. Cahayanya masuk lewat celah jendela, menyentuh wajahku dengan lembut. Aku bangun segera, merapikan tempat tidur dengan rapi, lalu mencuci muka dan menyikat gigi agar terasa segar. Udara pagi masih bersih dan sejuk, membuat semangatku bangkit. Di dapur, Ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan dan minuman hangat. Aroma masakan rumah terasa sangat sedap. Kami duduk bersama di meja makan, berdoa sebelum makan dan mengobrol dengan akrab. Suasana ini membuat hati tenang dan bahagia. Setelah selesai, aku membantu membereskan piring dan segera bersiap menjalani aktivitas. Jalanan mulai ramai orang beraktivitas. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik kendaraan. Semuanya tampak berusaha melakukan tugasnya dengan baik. Aku pun bergerak dengan tenang, mengerjakan segala hal yang menjadi tanggung jawabku dengan teliti dan jujur. Jika ada hal sulit, aku berusaha sabar dan tidak mudah putus asa.   Siang ha...
Postingan terbaru

YU UMROH DI BULAN OKTOBER

  Bismillahirrahmanirrahim. Saudaraku yang dirahmati Allah, Tidak semua orang diberi kesempatan menjadi tamu Allah di Baitullah. Harta yang banyak belum tentu menjadi jalan, kesehatan yang kuat belum tentu menjadi kesempatan. Ketika Allah memanggil, itulah anugerah yang tak ternilai. Mungkin selama ini kita disibukkan oleh urusan dunia, mengejar rezeki, jabatan, dan berbagai cita-cita. Namun pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, kapan kita memenuhi panggilan Rabb kita? Bayangkan saat pertama kali mata memandang Ka'bah, bibir mengucapkan talbiyah, air mata mengalir tanpa terasa, dan tangan terangkat memohon ampunan. Betapa indahnya menjadi tamu Allah, mencurahkan segala doa, harapan, dan penyesalan di hadapan-Nya. Jangan menunggu sempurna untuk berangkat. Jangan menunggu usia senja. Karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu akan berakhir. Selagi Allah masih memberikan kesehatan, rezeki, dan waktu, mari niatkan untuk memenuhi panggilan-Nya. Semoga Allah memudahkan set...

Doa Pelunas Utang

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ Allāhumma ikfinī biḥalālika 'an ḥarāmika, wa aghninī bifaḍlika 'amman siwāk. "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Pergeseran Nilai Kepedulian di Kalangan Siswa

  Sebagai seorang guru, saya sering merenungkan perubahan sikap yang terjadi di kalangan peserta didik. Dahulu, ketika ada teman sekelas yang sakit, hampir seluruh siswa dengan penuh semangat mengajak teman-temannya untuk menjenguk. Tidak ada yang bertanya apakah rumahnya jauh atau dekat. Tidak ada yang mencari alasan untuk tidak ikut. Yang ada hanyalah rasa peduli, empati, dan persaudaraan. Mereka datang bersama, membawa doa dan semangat agar temannya segera sembuh. Namun, keadaan itu terasa mulai berubah. Ketika ada siswa yang sakit, hanya sebagian kecil yang bersedia menjenguk. Sebagian lainnya memilih untuk tidak ikut dengan berbagai macam alasan. Kesibukan, rasa malas, atau alasan lainnya sering kali menjadi penghalang. Padahal, menjenguk orang sakit bukan sekadar datang berkunjung, tetapi juga merupakan bentuk kasih sayang dan perhatian yang dapat menguatkan hati orang yang sedang diuji. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kepedulian harus terus ditanamkan sejak ...

Ketika Hidup Sampai di Titik Kebuntuan

Ada masa dalam kehidupan ketika semua terasa begitu berat. Masalah datang silih berganti tanpa memberi kesempatan untuk sekadar menarik napas. Satu persoalan belum selesai, persoalan lain sudah menunggu di depan pintu. Pikiran dipenuhi kecemasan, hati dipenuhi kegelisahan, sementara tubuh mulai kehilangan tenaga. Pada saat seperti itu, kepala seolah tidak mampu lagi berpikir jernih. Semua jalan tampak buntu. Ingin rasanya berlari menjauh dari kenyataan, meninggalkan semua beban yang terasa begitu menyesakkan. Namun, kita sadar bahwa ini bukan sekadar persoalan yang bisa ditinggalkan. Ada amanah yang harus dipikul, ada keluarga yang harus dijaga, ada tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika kita merasa seluruh ilmu, pengalaman, dan usaha yang selama ini dikumpulkan seolah tidak lagi berarti. Semua strategi yang pernah dipelajari terasa tidak mampu menyelesaikan keadaan. Di titik itulah manusia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki batas. Sebesar a...

Ketika Akal Menjadi Satu-satunya Ukuran Kebenaran

  Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan akal yang diberikan-Nya, manusia mampu menciptakan berbagai penemuan yang memudahkan kehidupan. Dunia menjadi semakin terhubung, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, dan berbagai persoalan kehidupan dapat diselesaikan dengan bantuan sains serta teknologi. Islam sendiri tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan. Bahkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca, belajar, dan mencari ilmu. Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, muncul sebuah kecenderungan yang patut menjadi bahan renungan. Sebagian manusia mulai menempatkan akal sebagai satu-satunya hakim atas segala sesuatu. Sesuatu dianggap benar apabila dapat dijelaskan secara logis dan dibuktikan melalui pancaindra atau eksperimen ilmiah. Sebaliknya, apabila tidak dapat dijelaskan oleh logika atau belum dapat dibuktikan oleh sains, maka dianggap sebagai ...

Ketegasan Guru Demi Membentuk Akhlak Anak

 Menjadi seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki amanah besar untuk membentuk akhlak, karakter, serta adab peserta didik. Ilmu memang sangat penting, tetapi ilmu tanpa akhlak akan kehilangan kemuliaannya. Oleh karena itu, terkadang seorang guru harus bersikap tegas demi kebaikan anak-anak di masa depan. Sering kali terjadi ketika guru sedang menjelaskan pelajaran dengan sungguh-sungguh, ada saja siswa yang tiba-tiba meminta izin ke toilet, mengobrol, atau melakukan hal lain yang sebenarnya masih bisa ditunda beberapa menit. Jika memang benar-benar darurat, tentu guru akan memahaminya. Namun apabila hal tersebut dilakukan hanya karena bosan atau tidak ingin menyimak pelajaran, maka guru perlu memberikan batasan yang jelas. Mengapa demikian? Karena kebiasaan kecil di dalam kelas akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang terbiasa memotong pembicaraan guru, tidak menyimak ketika orang lain berbicara, atau memilih melakukan hal lain saat...