Dalam kehidupan, ada satu hal yang sering kali sulit dilakukan, yaitu menjaga sikap kepada orang tua ketika perbedaan pendapat mulai muncul. Saat kita masih kecil, orang tualah yang mengajari berjalan, berbicara, dan memahami kehidupan. Namun ketika waktu berjalan dan usia mereka semakin senja, keadaan perlahan berubah. Orang tua yang dulu kuat, tegas, dan bijaksana kadang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, bahkan sikapnya seperti kembali kepada masa kanak-kanak. Di saat seperti itulah kesabaran seorang anak benar-benar diuji. Kadang kita merasa berada di pihak yang benar. Kita merasa sudah berusaha perhatian, membantu, dan berbakti. Namun di mata orang tua, kita tetap dianggap anak kecil yang masih kurang memahami kehidupan. Sehebat apa pun kita di luar rumah, setinggi apa pun jabatan atau ilmu yang dimiliki, di hadapan orang tua kita tetaplah seorang bocah yang dulu mereka gendong dan rawat. Karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat, tidak perlu berdebat keras de...
Ada masa ketika malam di kampung bukan dipenuhi cahaya lampu listrik, suara televisi, atau bunyi notifikasi telepon genggam. Malam datang bersama gelap gulita yang pekat, hanya ditemani suara jangkrik, desir angin dari pepohonan, dan cahaya kecil dari lampu minyak yang redup. Masa itu pernah hidup di Kampung Cijulang, sebuah kampung yang sederhana namun penuh kehangatan dan kebersamaan. Bagi anak-anak zaman sekarang, cerita tentang hidup tanpa listrik dan internet mungkin terdengar seperti dongeng. Tetapi bagi kami yang pernah menjalaninya, itulah masa kecil yang paling indah dan paling membekas dalam ingatan. Ketika matahari mulai tenggelam dan azan magrib berkumandang, anak-anak kampung segera bergegas menuju rumah seorang ustadz. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada ancaman atau hadiah. Semua datang karena sudah menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Di rumah sederhana itu kami berkumpul sambil membaca selawat bersama. Suara anak-anak yang melantunkan pujian k...