Sekilas aku tidak mengerti dengan hatiku . Mengapa masih ada riak cemburu yang diam-diam bergelombang ketika melihatmu berada dalam pelukan yang lain. Bukankah itu tempat yang memang seharusnya kau singgahi? Bukankah tangan yang menggenggammu adalah tangan yang telah dipilih takdir untuk menemanimu? Dan bukankah aku sendiri telah memiliki yang lain untuk kujaga? Namun hati sering kali tidak mengenal logika. Ia berjalan di jalan yang tidak dapat dipetakan oleh akal. Ia menyimpan kenangan di sudut-sudut yang bahkan waktu gagal menjangkaunya. Maka ketika senyummu lewat di hadapanku, ada sesuatu yang masih terjaga di dalam dada, sesuatu yang kukira telah lama terkubur bersama musim-musim yang berlalu. Sering aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ini tanda bahwa aku tidak pandai bersyukur? Ataukah memang ada serpihan rasa yang tertinggal dan enggan pulang ke tempat asalnya? Aku mencari jawabannya pada hujan, pada desir angin yang melintas di antara dedaunan, pada langit senja yang perlah...
Aku tahu, kini tubuhmu berada dalam pelukan yang lain, namun ada bagian dari hatimu yang masih tertinggal di antara kenangan yang pernah kita rajut bersama. Aku tahu, hari-harimu kini berjalan megah di dalam istana yang penuh cahaya, tetapi senyum yang paling tulus pernah kau tinggalkan di gubuk tua yang menjadi saksi sederhana tentang cinta kita. Aku tahu, kau tertawa di hadapan banyak mata, menyembunyikan luka yang tak mampu mereka baca. Sebab ada rindu yang tak pernah benar-benar pergi, ada cerita yang belum sempat menemukan akhirnya. Andai takdir dapat kutulis ulang dengan tanganku sendiri, mungkin aku tak akan membiarkan waktu membawa kita ke jalan yang berbeda. Mungkin aku masih menggenggam tanganmu, menemani setiap langkahmu, dan menjadi rumah bagi segala lelahmu. Namun hidup bukan tentang "andaikan". Ia adalah kumpulan perpisahan yang harus diterima meski hati menolak. Kini namamu telah menjauh sejauh harapan yang tak lagi mampu kuraih, sementara aku tetap berdiri d...