Langsung ke konten utama

Postingan

Ironi Banyak Anak Kampung Tidak Bisa Baca Alqur`an

Pendidikan anak pada hakikatnya bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah, tetapi yang paling utama adalah tanggung jawab orang tua. Sekolah membantu mendidik dan mengembangkan kemampuan anak, tetapi orang tualah yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk akhlak, kebiasaan, dan kehidupan agama anak sejak dini. Salah satu hal yang sangat penting dalam pendidikan agama adalah kemampuan membaca Al-Qur’an. Bagi seorang muslim, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi merupakan petunjuk hidup. Karena itu, sudah seharusnya setiap orang tua memberikan perhatian serius terhadap pendidikan Al-Qur’an anak-anaknya. Ironisnya, di zaman sekarang masih ditemukan anak yang sudah duduk di kelas lima dan enam sekolah dasar, bahkan tingkat SMP dan SMA, tetapi belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Padahal mereka tinggal di lingkungan yang sebenarnya sangat mendukung. Banyak ustadz dan ustadzah yang membuka pengajian, bahkan tidak sedikit yang mengajarkannya secara gratis. Ketika ditanya, “Ka...
Postingan terbaru

Kesalahan Murid, Penyesalan, dan Sikap Guru

Menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang mendidik karakter dan membimbing murid agar mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Dalam kehidupan sekolah, tentu ada murid yang melakukan kesalahan. Ada yang langsung menyadari kesalahannya ketika ditegur, merasa bersalah, meminta maaf, dan berusaha memperbaiki diri. Namun, ada pula yang justru bersikap sebaliknya: sudah melakukan kesalahan, tetapi masih ngeyel, mencari alasan, bahkan menganggap perbuatannya sebagai sesuatu yang biasa. Ketika seorang murid melakukan kesalahan kemudian benar-benar merasa bersalah dan menyesal, sebenarnya di situlah terdapat harapan besar bagi seorang guru. Kesalahan memang tetaplah kesalahan dan tidak boleh dibenarkan. Namun, penyesalan menunjukkan bahwa hati anak tersebut masih terbuka untuk menerima nasihat. Ia masih memiliki keinginan untuk memperbaiki diri dan berusaha agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Guru tentu tetap harus member...

Tugas Mengarang Kelas 5 MI Cijulang

Keseharian yang Indah Oleh :Kasya Syafiyah Ahmad  Pagi hari dimulai saat matahari terbit dari timur. Cahayanya masuk lewat celah jendela, menyentuh wajahku dengan lembut. Aku bangun segera, merapikan tempat tidur dengan rapi, lalu mencuci muka dan menyikat gigi agar terasa segar. Udara pagi masih bersih dan sejuk, membuat semangatku bangkit. Di dapur, Ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan dan minuman hangat. Aroma masakan rumah terasa sangat sedap. Kami duduk bersama di meja makan, berdoa sebelum makan dan mengobrol dengan akrab. Suasana ini membuat hati tenang dan bahagia. Setelah selesai, aku membantu membereskan piring dan segera bersiap menjalani aktivitas. Jalanan mulai ramai orang beraktivitas. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik kendaraan. Semuanya tampak berusaha melakukan tugasnya dengan baik. Aku pun bergerak dengan tenang, mengerjakan segala hal yang menjadi tanggung jawabku dengan teliti dan jujur. Jika ada hal sulit, aku berusaha sabar dan tidak mudah putus asa.   ...

YU UMROH DI BULAN OKTOBER

  Bismillahirrahmanirrahim. Saudaraku yang dirahmati Allah, Tidak semua orang diberi kesempatan menjadi tamu Allah di Baitullah. Harta yang banyak belum tentu menjadi jalan, kesehatan yang kuat belum tentu menjadi kesempatan. Ketika Allah memanggil, itulah anugerah yang tak ternilai. Mungkin selama ini kita disibukkan oleh urusan dunia, mengejar rezeki, jabatan, dan berbagai cita-cita. Namun pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, kapan kita memenuhi panggilan Rabb kita? Bayangkan saat pertama kali mata memandang Ka'bah, bibir mengucapkan talbiyah, air mata mengalir tanpa terasa, dan tangan terangkat memohon ampunan. Betapa indahnya menjadi tamu Allah, mencurahkan segala doa, harapan, dan penyesalan di hadapan-Nya. Jangan menunggu sempurna untuk berangkat. Jangan menunggu usia senja. Karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu akan berakhir. Selagi Allah masih memberikan kesehatan, rezeki, dan waktu, mari niatkan untuk memenuhi panggilan-Nya. Semoga Allah memudahkan set...

Doa Pelunas Utang

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ Allāhumma ikfinī biḥalālika 'an ḥarāmika, wa aghninī bifaḍlika 'amman siwāk. "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Pergeseran Nilai Kepedulian di Kalangan Siswa

  Sebagai seorang guru, saya sering merenungkan perubahan sikap yang terjadi di kalangan peserta didik. Dahulu, ketika ada teman sekelas yang sakit, hampir seluruh siswa dengan penuh semangat mengajak teman-temannya untuk menjenguk. Tidak ada yang bertanya apakah rumahnya jauh atau dekat. Tidak ada yang mencari alasan untuk tidak ikut. Yang ada hanyalah rasa peduli, empati, dan persaudaraan. Mereka datang bersama, membawa doa dan semangat agar temannya segera sembuh. Namun, keadaan itu terasa mulai berubah. Ketika ada siswa yang sakit, hanya sebagian kecil yang bersedia menjenguk. Sebagian lainnya memilih untuk tidak ikut dengan berbagai macam alasan. Kesibukan, rasa malas, atau alasan lainnya sering kali menjadi penghalang. Padahal, menjenguk orang sakit bukan sekadar datang berkunjung, tetapi juga merupakan bentuk kasih sayang dan perhatian yang dapat menguatkan hati orang yang sedang diuji. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kepedulian harus terus ditanamkan sejak ...

Ketika Hidup Sampai di Titik Kebuntuan

Ada masa dalam kehidupan ketika semua terasa begitu berat. Masalah datang silih berganti tanpa memberi kesempatan untuk sekadar menarik napas. Satu persoalan belum selesai, persoalan lain sudah menunggu di depan pintu. Pikiran dipenuhi kecemasan, hati dipenuhi kegelisahan, sementara tubuh mulai kehilangan tenaga. Pada saat seperti itu, kepala seolah tidak mampu lagi berpikir jernih. Semua jalan tampak buntu. Ingin rasanya berlari menjauh dari kenyataan, meninggalkan semua beban yang terasa begitu menyesakkan. Namun, kita sadar bahwa ini bukan sekadar persoalan yang bisa ditinggalkan. Ada amanah yang harus dipikul, ada keluarga yang harus dijaga, ada tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika kita merasa seluruh ilmu, pengalaman, dan usaha yang selama ini dikumpulkan seolah tidak lagi berarti. Semua strategi yang pernah dipelajari terasa tidak mampu menyelesaikan keadaan. Di titik itulah manusia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki batas. Sebesar a...