Ego sering kali menjadi akar dari berbagai permasalahan dalam
hubungan antarindividu, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun lingkungan
sosial yang lebih luas. Ego muncul ketika seseorang merasa dirinya paling
benar, paling penting, dan enggan mengakui kesalahan. Pada titik inilah ego
berubah dari sekadar rasa percaya diri menjadi sumber konflik yang merusak.
Masalah sering kali bukan terletak pada peristiwa awal, melainkan pada sikap
mempertahankan ego yang berlebihan.
Ketika seseorang tidak merasa bersalah, meskipun jelas telah
melakukan kesalahan, maka tidak ada ruang untuk mengalah. Keengganan untuk
mengakui kesalahan membuat komunikasi menjadi buntu. Setiap pihak sibuk membela
diri, mencari pembenaran, dan menutup telinga terhadap sudut pandang orang
lain. Akibatnya, perdebatan terus berlanjut tanpa solusi yang jelas. Ego
membuat seseorang lebih fokus untuk menang dalam argumen daripada menjaga
hubungan.
Hal yang lebih parah terjadi ketika seseorang sudah jelas
bersalah, namun tetap tidak mau mengakui dan memilih untuk mempertahankan harga
dirinya. Ego pada tahap ini menjadi biang masalah yang sesungguhnya. Sikap
keras kepala, merasa paling benar, dan menolak introspeksi justru memperpanjang
konflik. Permasalahan kecil yang seharusnya dapat diselesaikan dengan
permintaan maaf sederhana, berubah menjadi pertengkaran panjang yang melelahkan
secara emosional.
Ego juga perlahan menciptakan jarak dalam hubungan. Ketika
perdebatan terus berulang, rasa nyaman dan kepercayaan mulai terkikis. Hubungan
yang awalnya hangat menjadi renggang, komunikasi menjadi dingin, dan empati
semakin berkurang. Setiap interaksi terasa dipenuhi ketegangan karena luka lama
belum pernah benar-benar disembuhkan. Ego menutup pintu rekonsiliasi dan
menggantinya dengan rasa gengsi dan pembelaan diri.
Pada akhirnya, jika ego terus dipelihara, kehancuran hubungan
menjadi hal yang sulit dihindari. Baik itu hubungan pertemanan, keluarga,
maupun kerja sama, semuanya membutuhkan sikap saling memahami dan kerendahan
hati. Mengalah bukan berarti kalah, dan mengakui kesalahan bukan berarti lemah.
Justru dengan menurunkan ego, seseorang menunjukkan kedewasaan dan
kebijaksanaan. Ego yang dikendalikan dapat menjadi kekuatan, namun ego yang
dibiarkan liar hanya akan membawa perpecahan dan penyesalan di kemudian hari.

Komentar
Posting Komentar