Dalam perjalanan hidup, tidak jarang
kita merasa lelah, kecewa, bahkan marah pada keadaan. Ketika harapan tidak
sejalan dengan kenyataan, rasa syukur perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah
perasaan kurang, gelisah, dan pertanyaan, “Mengapa hidupku seperti ini?” Kita
fokus pada apa yang belum kita miliki, bukan pada apa yang sudah ada di tangan.
Namun suatu hari, kita melihat
seseorang yang secara ekonomi dan fisik menurut penilaian kita jauh “di bawah”.
Hidupnya sederhana, mungkin penuh keterbatasan. Pekerjaannya tidak bergengsi,
penghasilannya tidak besar, kesehatannya pun mungkin tidak sempurna. Tetapi
anehnya, ia tetap tersenyum. Ia tetap menyapa dengan hangat. Ia tetap bersyukur
atas hari yang dijalaninya.
Di situlah hati kita mulai terusik.Kita
sadar, kebahagiaan ternyata bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki,
tetapi tentang bagaimana kita memandang apa yang kita miliki. Orang-orang yang
kita anggap “kurang beruntung” justru sering kali memiliki hati yang lebih
lapang. Mereka tidak sibuk membandingkan, tidak tenggelam dalam iri hati, dan
tidak terus-menerus menuntut hidup untuk lebih. Mereka menerima, berusaha, dan
berserah.
Kita pun belajar bahwa rasa syukur
adalah pilihan. Ia tidak menunggu keadaan sempurna untuk hadir. Ia tumbuh
ketika kita mau melihat hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Ketika kita
berhenti menghitung kekurangan, lalu mulai menghargai nikmat kecil: tubuh yang
masih bisa bergerak, keluarga yang masih mendukung, pekerjaan yang masih
memberi penghasilan, udara yang masih bisa kita hirup setiap hari.
Sering kali, keluhan membuat kita lupa
bahwa masih banyak orang yang berjuang lebih keras dari kita. Mereka mungkin
tidur di tempat yang sederhana, bekerja dengan tenaga ekstra, atau hidup dengan
keterbatasan fisik. Namun mereka tetap menemukan alasan untuk tersenyum. Mereka
tidak menunggu kaya untuk bersyukur; mereka bersyukur sehingga merasa cukup.
Kesadaran itu seharusnya tidak membuat
kita merasa bersalah, tetapi membuat kita terbangun. Terbangun untuk lebih
menghargai hidup. Terbangun untuk berhenti menyalahkan keadaan. Terbangun untuk
memperbaiki diri tanpa kehilangan damai.
Mulai hari ini, ketika rasa mengeluh
muncul, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Ingat bahwa hidup
bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki, tetapi siapa yang paling mampu
mensyukuri. Karena pada akhirnya, ketenangan tidak lahir dari kelimpahan
materi, melainkan dari hati yang menerima dan percaya bahwa setiap fase hidup
memiliki maknanya sendiri.
Bersyukur bukan berarti menyerah.
Bersyukur adalah kekuatan untuk melangkah dengan hati yang lebih ringan dan
pikiran yang lebih jernih.

Komentar
Posting Komentar