Langsung ke konten utama

Surat Terakhir untuk Lia Yulianti

 



Malam itu, hujan turun pelan-pelan, membasahi atap seng yang sudah karatan. Di dalam gubuk tua yang nyaris roboh, seorang pemuda bernama Arman duduk sendirian. Di tangannya tergenggam sebuah kertas lusuh dan bolpoin yang tintanya hampir habis. Ia menatap kosong, lalu mulai menulis dengan tangan gemetar.

“Maafkan aku, Lia…”

Arman berhenti sejenak. Nama itu membuat dadanya terasa sesak. Lia—wanita yang pernah ia yakini sebagai cahaya hidupnya. Seorang perempuan cantik, pintar, dan penuh senyum. Lia tidak pernah memandang rendah dirinya meski ia hanyalah seorang pemuda miskin yang bekerja serabutan. Justru Lia yang selalu memberi semangat, selalu menanyakan kabar, dan menunggu Arman setiap sore di taman kecil dekat pasar.

Tapi Arman tahu, cintanya pada Lia adalah kemewahan yang tak pantas ia genggam. Bukan karena Lia salah, tapi karena dirinya sendiri. Hidupnya hanyalah sisa-sisa mimpi yang patah. Ia tinggal di gubuk tua milik seorang kerabat jauh, menumpang hidup tanpa kepastian. Setiap hari ia bekerja keras, mengangkut karung beras, membongkar muatan di pelabuhan, kadang tak dibayar sepeser pun. Makan pun sering kali seadanya.

Dia menulis lagi.

“Kamu itu wanita cantik, menarik, dan juga pintar. Aku mencintaimu, Lia… lebih dari yang bisa kukatakan. Tapi aku tak pantas. Aku tak punya apa-apa. Tak ada rumah, tak ada harta. Aku hanya orang miskin yang bahkan kesulitan untuk menghidupi diri sendiri. Bagaimana aku bisa membahagiakan kamu?”

Air matanya jatuh, membasahi kertas itu. Kata-kata berikutnya semakin berat untuk ditulis.

“Jangan salah paham… aku menghindar bukan karena aku membencimu. Justru aku menjauh agar kamu bisa mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku ingin kamu bersama seseorang yang sepadan denganmu—yang bisa memberimu masa depan indah, rumah yang hangat, bukan gubuk tua penuh bocor seperti tempatku tinggal.”

Arman berhenti. Tangannya gemetar semakin hebat. Di luar, hujan makin deras, angin membawa dingin menusuk tulang. Ia menatap kertas itu lama-lama, seolah wajah Lia terlukis di sana—mata teduhnya, senyum kecilnya yang selalu membuat hidup Arman terasa sedikit lebih ringan.

Ia menulis kalimat terakhir.

“Biarkan aku pergi, Lia… biarkan aku membawa luka ini sendiri. Pedihnya hidupku sudah cukup berat tanpa harus menyeretmu masuk ke dalamnya. Maafkan aku karena mencintaimu tapi tak bisa menggenggammu.”

Arman melipat surat itu dengan hati-hati. Ia tahu Lia mungkin tak pernah membacanya, atau mungkin membacanya saat sudah terlambat. Tapi baginya, menulis surat itu adalah satu-satunya cara untuk mengucapkan selamat tinggal tanpa menyakiti Lia lebih jauh.

Malam itu, Arman berjalan keluar gubuk, menyelipkan suratnya ke pintu rumah Lia sebelum menghilang dalam hujan. Sementara di balik jendela, Lia memandang jalan yang kosong, tanpa tahu bahwa seseorang yang selalu mencintainya kini benar-benar pergi—membawa luka yang ia simpan sendiri.

Kisah cinta mereka berakhir bukan karena berhenti mencinta, tapi karena kemiskinan yang memaksa hati memilih berkorban. Dan di bawah langit yang basah, Arman berjalan sendirian, meninggalkan cinta yang tak pernah selesai.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Bergizi Gratis Perdana di MI Cijulang

  Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cijulang menyambut dengan penuh suka cita program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pertama kali dilaksanakan di sekolah. Program ini disambut sangat gembira oleh para siswa, karena selain memberikan pengalaman baru, juga menambah semangat belajar mereka di sekolah. Sejak pagi, wajah anak-anak terlihat ceria menantikan momen istimewa ini. Ketika makanan bergizi dibagikan, mereka tampak begitu antusias dan menikmatinya dengan lahap. Menu yang disajikan pun sehat dan bervariasi, mulai dari nasi, lauk pauk berprotein, sayuran segar, hingga buah-buahan. Hal ini tentu menjadi langkah baik dalam mendukung pertumbuhan fisik maupun kecerdasan anak-anak. Kepala MI Cijulang menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah atas terselenggaranya program MBG ini. Menurut beliau, program ini tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan siswa, tetapi juga menjadi motivasi tambahan agar anak-anak lebih rajin belajar. Dengan tubuh yang sehat dan gizi ...

SOAL LATIHAN IPAS KELAS 5 SD/MI

  Belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) adalah cara menyenangkan untuk menambah wawasan. Untuk melatih pemahaman, silakan kerjakan soal-soal IPAS yang tersedia. Kegiatan ini tidak bersifat wajib, sehingga siapa pun bebas memilih untuk berpartisipasi. Soal IPAS diperuntukkan bagi masyarakat umum, tanpa batasan usia maupun latar belakang pendidikan. Menariknya, soal tersebut dapat dikerjakan di mana saja dan kapan saja sesuai kenyamanan masing-masing. Dengan begitu, belajar IPAS menjadi lebih fleksibel sekaligus bermanfaat. Semakin sering berlatih, semakin mudah memahami konsep-konsep penting dalam IPAS yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Unutk mengerjakan soal tersebut silahkan klik  kata yang di cetak  miring         :   Klik di sini soalan IPAS Kelas 5 MI /SD

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...