Di suatu siang
yang sunyi, aku duduk sendirian di ruang kantor. Ruangan itu terasa begitu
hening, hanya suara jam dinding yang terdengar berulang, seakan menghitung
setiap detik kesendirianku. Saat itu, pintu perlahan terbuka, dan masuklah
seorang ibu wali murid. Beliau tersenyum kecil, senyum yang seakan
menyembunyikan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Aku menyapanya dengan
sopan, tak pernah menduga bahwa pertemuan singkat itu akan meninggalkan jejak
mendalam di hatiku.
Tanpa banyak basa-basi, ibu itu duduk di hadapanku.
Matanya tampak berkaca-kaca, dan suaranya bergetar saat ia mulai berbicara.
“Nak, sebenarnya… ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan sejak lama,” katanya
lirih. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya, mencoba menebak ke mana arah
pembicaraannya.
Lalu dengan napas tertahan, ia melanjutkan,
“Sebenarnya… ibu berencana untuk menjodohkan putriku denganmu.” Kata-kata itu
membuat dadaku sesak seketika. Aku terdiam, mencoba mencerna. “Sayang,” ucapnya
lagi, “putriku keburu dipanggil Tuhan karena sakit. Jadi ibu tak sempat
menyampaikan langsung padamu. Mungkin akan lebih sakit kalau ibu sudah sampaikan
kepadamu,kamu akan merasa sangat kehilangan.”
Aku tertegun. Kata-kata itu bagaikan petir di siang
bolong. Bayangan wajah almarhumah yang selama ini kukenal sebagai Perempuan yang
cantik pintar lembut dan penyayang melintas di kepalaku. Ternyata, tanpa aku
tahu, ia pernah menaruh harapan besar padaku. Tapi semua itu telah terkubur
bersama kepergiannya.
Aku menunduk, kedua tanganku gemetar. Dalam hati aku
bergumam, “Benarkah ini? Benarkah putrinya yang cantik, pintar, dan penuh
pesona itu… pernah direncanakan untuk bersama dengan diriku yang begitu
sederhana, yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan?” Rasanya begitu
mustahil. Aku selalu merasa diriku tak pantas, terlalu kecil untuk seseorang
seistimewa dia.
Ibu itu menatapku penuh iba. “Nak, jangan terlalu
menyalahkan diri. Kadang takdir memang berjalan dengan cara yang kita tidak
mengerti. Memang putri ibu sudah tahu rencana ibu. Mungkin berharap akan kehadiranmu
waktu itu. Tapi setidaknya, ketahuilah… ibu percaya padamu.Bahwa kau orang baik
pilihan kami bisa menjadi seseorang yang menjaga dan membahagiakan putriku.”
Air mataku hampir jatuh. Aku menatap kosong ke arah
jendela, melihat langit kelabu yang perlahan diselimuti awan. Aku membayangkan,
bagaimana seandainya almarhumah masih hidup? Mungkin ia akan bersamaku, menatap
mataku dengan keyakinan, dan berkata, “aku siap menjadi pendampingmu .” Tapi
kini semua itu hanya sebatas angan-angan yang tak mungkin terwujud.
Setelah ibu itu pamit meninggalkan ruangan, aku masih
termenung. Kursi yang tadi didudukinya kini kosong, tapi kata-katanya masih
bergema kuat di telingaku. Aku merasakan perasaan aneh—antara kehilangan,
kerinduan, dan juga kesedihan yang tak mampu kuungkapkan.
Aku tak mengerti kenapa putrinya sebelum meninggal
memilih aku. Padahal aku hanyalah guru sederhana yang tak berarti apa-apa. Tapi
di hatiku, tersimpan rasa haru sekaligus luka: bahwa pernah ada seseorang,
seorang ibu, yang melihatku pantas untuk putrinya yang begitu berharga.
Hari itu, aku pulang dengan langkah gontai. Malamnya
aku berdoa lama, mendoakan almarhumah agar tenang di sisi-Nya.
Kadang, hidup ini menyimpan cerita-cerita yang tak
pernah sampai pada akhirnya. Seperti aku dan dia, yang hanya sebatas
kemungkinan, sebatas doa seorang ibu yang tak pernah sempat terucapkan
langsung.
Aku hanya bisa menatap langit malam, bertanya dalam
hati: apakah aku benar-benar pantas? Atau ini hanyalah isyarat, bahwa cinta
kadang datang bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang, sebagai cerita
yang selamanya mengendap di sudut hati.

Komentar
Posting Komentar