Aku datang padamu dengan hati penuh sayang. Semua yang kupunya, yang tak seberapa, kuberikan dengan tulus. Kau sambut perasaanku, dan aku kira itu adalah awal dari kebahagiaan. Aku percaya pada senyummu, pada genggaman tanganmu, pada setiap kata manis yang keluar dari bibirmu. Aku kira cintamu sejujur cintaku.
Hari-hari pertama bersama denganmu terasa indah. Kita
berjalan berdua di jalanan kecil, bercanda, tertawa, seakan dunia ini hanya
milik kita. Kau sering berkata, “Aku bahagia bersamamu, meski kau sederhana.”
Dan aku percaya. Aku tidak pernah meragukanmu, karena aku tahu aku mencintaimu
tanpa syarat.
Namun perlahan, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Senyummu yang dulu hangat, kini terasa dingin. Tatapanmu yang dulu penuh cinta,
kini sering kosong. Kau mulai sibuk, sering beralasan tak bisa bertemu. Dan
saat kita berjumpa, aku melihat matamu seakan menyimpan sesuatu yang tak pernah
kau katakan.
Hingga akhirnya aku tahu. Semua itu hanya pura-pura. Cintamu
hanyalah sandiwara, permainan yang kau jalani untuk menutupi apa yang
sebenarnya ada di hatimu. Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kau hanya
menganggapku singgahan, seseorang yang bisa kau manfaatkan sementara.
Hari itu kau berkata dengan lantang, tanpa peduli perasaanku,
“Aku tidak bisa hidup denganmu. Karena kamu lelaki yang tak punya dan tak
memiliki masa depan .”
Kata-katamu menusuk jiwaku. Seakan semua kebahagiaan yang
kubangun bersamamu runtuh begitu saja. Kau menghina aku, seolah seluruh
ketulusanku tak ada artinya hanya karena aku tak punya harta. Aku menatapmu
dengan mata berkaca-kaca, mencoba menahan air mata, tapi suaraku gemetar saat
aku berkata, “Apakah cintaku tidak cukup bagimu?”
Tapi kau hanya tertawa kecil, senyum yang penuh penghinaan.
Lalu kau pergi, meninggalkanku. Dan tak lama kemudian aku tahu, kau memberikan
kesucianmu pada orang lain. Lelaki yang dianggap lebih kaya, yang bisa memberimu apa yang tidak
bisa kuberikan. Aku hancur. Malam itu aku menangis, bukan hanya karena kau
meninggalkanku, tapi karena aku sadar betapa bodohnya aku telah percaya pada
cintamu yang palsu.
Hari-hariku setelah itu penuh luka. Aku berjalan sendiri,
mencoba mengobati hati yang terlanjur remuk. Aku bekerja keras, bukan untuk
membuktikan apa-apa padamu, melainkan untuk membuktikan pada diriku sendiri
bahwa aku bisa bangkit dan memiliki masa depan meski tanpa dirimu.
Waktu berjalan. Dan aku dengar kabar itu. Hubunganmu dengan
dia tidak bertahan lama. Lelaki itu meninggalkanmu, merenggut segalanya darimu,
lalu pergi tanpa rasa peduli. Kau gagal. Kau hancur.
Dan pada akhirnya, kau datang kembali padaku. Dengan wajah
penuh air mata, dengan suara bergetar, kau berkata, “Maafkan aku. Aku salah.
Aku bodoh telah mengabaikanmu. Aku ingin kembali. Aku masih mencintaimu.”
Aku menatapmu lama. Kau masih cantik, pesonamu tak berubah,
tapi aku tahu di balik itu semua, ada luka yang tak bisa kuabaikan. Aku ingat
bagaimana dulu kau menghina aku, meninggalkan aku hanya karena aku miskin,
memberikan sesuatu yang seharusnya dijaga untuk orang lain.
Air mataku jatuh. Bukan karena aku bahagia kau kembali,
melainkan karena luka lama itu kembali terbuka. Aku menggeleng pelan dan
berkata lirih, “Maaf. Aku tidak bisa lagi. Aku pernah mencintaimu sepenuh hati,
tapi kau hancurkan semuanya. Aku tidak akan kembali, meski kau memang cantik.
Karena cinta bagiku bukan soal wajah atau harta, melainkan tentang hati yang
tulus. Dan hatimu pernah menghinaku.”
Kau menangis di hadapanku, memohon, tapi aku tidak bergeming.
Aku memilih pergi, meninggalkanmu sendiri. Aku tidak ingin lagi mengulang luka
yang sama.
Sejak saat itu aku belajar: cinta yang sejati tidak pernah
pura-pura, tidak pernah meninggalkan hanya karena miskin. Dan aku berjanji, aku
akan menjaga hatiku untuk seseorang yang benar-benar tahu bagaimana menghargai
ketulusan.

Komentar
Posting Komentar