Skip to main content

Guru Berumah Bilik Bambu Yang Dianggap Tidak Bermutu


Namanya Pak Ramli. Seorang guru honorer di sebuah kampung, tinggal di sebuah rumah kecil berdinding bilik bambu, berlantaikan tanah, dan beratapkan genting  tua yang mulai berwarna hitam dan pecah. Ia tidak punya motor, apalagi mobil. Setiap hari, Pak Ramli berjalan kaki menyusuri jalan berbatu sejauh 1 kilometer menuju sekolah tempatnya mengajar.


Bukan hanya murid-murid yang sering memperhatikan penampilannya yang sederhana, tapi juga rekan-rekannya sesama guru. Ada yang mencibir, ada pula yang meremehkan. “Guru kok kere,” bisik-bisik mereka. Bahkan beberapa rekan guru ada yang menyuruh untuk kredit motor .


Dalam urusan cinta, nasibnya pun tak lebih baik. Beberapa kali ia mencoba membuka hati kepada perempuan yang ia sukai, namun semuanya menolak dengan alasan yang tidak pernah dikatakan secara langsung—kemiskinan.


Namun, ada satu hal yang tak bisa diremehkan dari diri Pak Ramli: semangatnya. Ia adalah sosok yang tegas dan lugas dalam mendidik. Disiplin adalah prinsip hidupnya, dan kejujuran adalah napasnya. Ia tidak pernah mengeluh, meski harus berjalan kaki  ke sekolah sedangkan Sebagian muridnya sudah memakai motor.


Anak-anak menyayanginya karena ia mengajar dengan sepenuh hati. Ia tidak hanya mengajar membaca dan berhitung, tapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan—tentang kejujuran, kerja keras, dan pantang menyerah. Ia sering berkata,


"Hidup bukan soal punya atau tidak punya, tapi soal memberi apa yang bisa kita beri. Kalian mungkin lupa pelajaran saya, tapi saya ingin kalian ingat bahwa menjadi orang baik itu tidak pernah rugi."

Seiring berjalananya waktu Pak Ramli  memiliki perubahan dalam kehidupannya  dengan keberkahan dari mengajarnya, dia mulai  ada perbaikan dalam ekonominya. Walau cobaan silih berganti datang dan pergi Pak Ramli tetap sabar dan terus sabar sambil berihtiar dan mengajar.

Dia  memiliki keyakinan sekecil  apapun kebaikan yang  diberikan kepada orang lain pasti Allah akan balas, begitu juga ketika berbuat buruk pada orang lain sekecil apapun pasti Allah akan membalasnya juga. Jadi tetap semangat dalam berbuat baik.  Adapun cobaan datang itu hanya ujian  untuk meningkatkan kedewasaan. Kemiskinan dan kekayaan dua duanya adalah ujian dalam kehidupan dunia. Ketika kita miskin apa kita bisa sabar?  ataukah ketika kaya bisa bersyukur tidak?


Comments

Popular posts from this blog

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...

GALERI FOTO KEGIATAN HUT RI KE-81 MI CIJULANG

Dokumentasi kemeriahan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di MI Cijulang. Berbagai kegiatan berlangsung dengan penuh semangat, keceriaan, dan kebersamaan seluruh siswa serta warga sekolah. “Semangat Kemerdekaan, Semangat Belajar, Semangat Meraih Prestasi.” Dirgahayu Republik Indonesia ke-81