Di dalam hutan, tidak pernah ada sebuah pemilihan, tidak pernah ada musyawarah, apalagi pemungutan suara untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin. Hutan hidup dengan hukum alamnya sendiri, di mana setiap makhluk memiliki peran, keseimbangan, dan jalannya masing-masing. Namun, harimau sering kali disebut-sebut sebagai “raja hutan.” Julukan itu lahir bukan karena kesepakatan seluruh penghuni hutan, melainkan karena sifatnya yang kuat, berani, dan ditakuti.
Masalahnya, harimau kadang menjadi terlalu egois. Ia menganggap dirinya penguasa, seakan-akan seluruh isi hutan adalah miliknya. Ia berjalan dengan angkuh, menebar teror dengan cakarnya, dan merasa berhak menentukan aturan tanpa mendengar suara makhluk lain. Padahal, kera, gajah, burung, rusa, bahkan semut pun punya peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan.
Jika hutan bisa berbicara, mungkin ia akan menegur harimau:
“Wahai harimau, engkau memang kuat, tetapi kekuatan bukanlah alasan untuk menyebut dirimu raja. Tidak ada satupun dari kami yang memilihmu. Kau hanyalah bagian dari hutan, sama seperti kami. Jika engkau rakus dan egois, maka kerusakanlah yang akan datang, bukan keharmonisan.”
Kenyataannya, hutan tidak butuh raja. Hutan butuh keseimbangan. Semua makhluk, kecil maupun besar, berhak hidup damai sesuai takdirnya. Julukan “raja hutan” hanyalah sebutan yang diciptakan manusia, bukan hasil pengakuan alam. Maka, seekor harimau yang mengaku-ngaku sebagai raja sesungguhnya sedang terjebak dalam kesombongan dirinya sendiri.
Kekuatan tidak selalu identik dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati bukanlah yang merasa berkuasa karena ditakuti, melainkan yang mampu menjaga, melindungi, dan menyeimbangkan kehidupan di sekitarnya. Mengaku raja tanpa persetujuan hanyalah bentuk egoisme, bukan kepemimpinan yang sejati.


Komentar
Posting Komentar