Langsung ke konten utama

Ironi Banyak Anak Kampung Tidak Bisa Baca Alqur`an



Pendidikan anak pada hakikatnya bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah, tetapi yang paling utama adalah tanggung jawab orang tua. Sekolah membantu mendidik dan mengembangkan kemampuan anak, tetapi orang tualah yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk akhlak, kebiasaan, dan kehidupan agama anak sejak dini.

Salah satu hal yang sangat penting dalam pendidikan agama adalah kemampuan membaca Al-Qur’an. Bagi seorang muslim, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi merupakan petunjuk hidup. Karena itu, sudah seharusnya setiap orang tua memberikan perhatian serius terhadap pendidikan Al-Qur’an anak-anaknya.

Ironisnya, di zaman sekarang masih ditemukan anak yang sudah duduk di kelas lima dan enam sekolah dasar, bahkan tingkat SMP dan SMA, tetapi belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Padahal mereka tinggal di lingkungan yang sebenarnya sangat mendukung. Banyak ustadz dan ustadzah yang membuka pengajian, bahkan tidak sedikit yang mengajarkannya secara gratis.

Ketika ditanya, “Kamu mengaji di mana?” mereka mungkin menjawab, “Saya mengaji di pengajian itu.” Namun ketika diperhatikan, ternyata mereka jarang hadir. Hari ini mengaji, kemudian beberapa hari bahkan berminggu-minggu tidak datang. Akhirnya kemampuan membaca Al-Qur’annya tidak berkembang.

Dalam keadaan seperti ini, orang tua tidak boleh hanya menyalahkan anak. Anak memang harus belajar disiplin dan memiliki kesadaran, tetapi orang tua juga harus mengawasi dan membimbing. Jangan sampai orang tua merasa sudah cukup hanya dengan menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan materi mereka.

Orang tua rela bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan anak. Mencari nafkah, membelikan pakaian, menyediakan makanan, membayar sekolah, dan mempersiapkan masa depan mereka. Semua itu tentu sangat baik. Namun jangan sampai perhatian terhadap kebutuhan dunia membuat kita lupa mempersiapkan keselamatan anak di akhirat.

Pertanyaannya, apakah kita sudah bertanya kepada anak, “Sudahkah kamu mengaji hari ini?” Apakah kita mengetahui apakah anak benar-benar mengikuti pengajian atau hanya sekadar terdaftar? Apakah kita mengetahui kemampuan mereka membaca Al-Qur’an?

Orang tua perlu memberikan teladan. Jangan hanya menyuruh anak mengaji, sementara orang tuanya sendiri jarang membaca Al-Qur’an. Anak akan lebih mudah mengikuti apa yang mereka lihat daripada sekadar mendengar nasihat.

Mari kita sadari bahwa anak adalah amanah. Kelak setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, jangan sampai kita sibuk mempersiapkan anak agar sukses di dunia, tetapi lupa membekali mereka dengan agama.

Semoga para orang tua semakin sadar bahwa pendidikan agama anak adalah tanggung jawab bersama, terutama tanggung jawab keluarga. Mari dampingi anak-anak kita untuk mencintai masjid, mencintai majelis ilmu, mencintai para guru, dan mencintai Al-Qur’an.

Semoga jerih payah kita mencari nafkah tidak hanya menjadikan anak-anak kita berhasil di dunia, tetapi juga menjadi anak-anak yang saleh, berakhlak mulia, dekat dengan Al-Qur’an, dan menjadi keselamatan bagi orang tuanya di dunia dan akhirat. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...