Di sudut kota Madinah, hiduplah seorang lelaki tua yang telah kehilangan penglihatannya. Tubuhnya lemah, rambutnya memutih, dan hidupnya bergantung pada belas kasihan orang lain. Setiap hari ia duduk di pinggir jalan yang ramai dilalui masyarakat.
Namun, ada satu kebiasaan yang membuat banyak orang merasa sedih. Setiap kali orang-orang membicarakan Nabi Muhammad ﷺ, lelaki tua itu selalu berkata dengan nada penuh kebencian.
"Jangan kalian dekati Muhammad! Dia seorang penyihir. Dia memecah belah keluarga. Dia menyesatkan manusia. Siapa pun yang mengikutinya akan celaka."
Orang-orang yang mendengar ucapan itu hanya menghela napas. Mereka tahu lelaki itu buta, bukan hanya matanya, tetapi juga hatinya yang belum mengenal kebenaran. Ia hanya mengulang cerita-cerita bohong yang didengarnya dari orang-orang yang membenci Rasulullah ﷺ.
Anehnya, tidak ada yang membalas caciannya.
Bahkan, orang yang paling ia benci justru adalah orang yang paling menyayanginya.
Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, datanglah seorang lelaki dengan langkah tenang. Lelaki itu membawa makanan yang lembut. Ia duduk di samping si buta tanpa memperkenalkan dirinya.
Karena lelaki tua itu sudah renta dan tidak memiliki gigi yang kuat, makanan itu dikunyah terlebih dahulu hingga halus, lalu dengan penuh kasih disuapkan sedikit demi sedikit.
"Silakan makan, Pak."
Lelaki tua itu menerimanya tanpa curiga.
Sambil menikmati makanan, ia tetap mengucapkan kalimat yang sama.
"Hati-hati dengan Muhammad. Dia bukan orang baik."
Lelaki yang menyuapinya hanya tersenyum. Tidak ada bantahan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada rasa tersinggung.
Ia tetap menyuapkan makanan hingga habis, memastikan lelaki tua itu kenyang, lalu berpamitan dengan lembut.
Orang yang melakukan semua itu tidak lain adalah Rasulullah Muhammad ﷺ.
Beliau tidak pernah memperkenalkan dirinya. Beliau tidak pernah berkata, "Akulah Muhammad yang selalu kau hina."
Beliau hanya membalas kebencian dengan kasih sayang.
Hari demi hari berlalu.
Rutinitas itu terus berlangsung selama Rasulullah ﷺ masih hidup. Tidak ada satu hari pun beliau melupakannya.
Hingga suatu hari, suasana Madinah berubah.
Tangis terdengar dari berbagai penjuru kota.
Kaum muslimin larut dalam kesedihan.
Rasulullah ﷺ telah wafat.
Kota Madinah seakan kehilangan cahaya.
Di tengah kesedihan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq teringat pada kebiasaan Rasulullah ﷺ yang tidak diketahui banyak orang.
Beliau tahu ada seorang lelaki tua buta yang setiap hari disuapi oleh Rasulullah.
Maka keesokan harinya, Abu Bakar mengambil makanan lalu berjalan menuju tempat lelaki tua itu biasa duduk.
Sesampainya di sana, ia memberi salam, duduk di sampingnya, lalu mulai menyuapkan makanan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah.
Namun baru satu suapan masuk ke mulutnya, lelaki tua itu langsung berhenti makan.
Ia bertanya dengan heran,
"Siapa engkau?"
Abu Bakar menjawab pelan,
"Aku hanya seorang yang ingin membantumu."
Lelaki tua itu menggeleng.
"Bukan... bukan begitu."
Abu Bakar terdiam.
Lelaki tua itu melanjutkan,
"Orang yang biasa datang kepadaku selalu mengunyahkan makanan ini terlebih dahulu hingga lembut. Ia menyuapiku dengan penuh kesabaran. Tangannya begitu halus. Ia tahu bagaimana membuatku nyaman. Sedangkan engkau... engkau bukan dia."
Mendengar perkataan itu, air mata Abu Bakar tidak mampu dibendung.
Dadanya sesak.
Ia sadar, betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada orang yang bahkan membencinya.
Dengan suara bergetar Abu Bakar berkata,
"Wahai Bapak... orang yang selama ini datang kepadamu... orang yang setiap hari mengunyahkan makanan untukmu... orang yang dengan sabar menyuapimu... dialah Muhammad yang setiap hari engkau cela."
Lelaki tua itu seketika gemetar.
Tangannya bergetar.
Mulutnya terbuka tanpa kata.
Air mata mengalir deras dari kedua matanya yang sudah tidak dapat melihat.
"Tidak... tidak mungkin..."
Abu Bakar mengangguk.
"Benar. Beliau tidak pernah membalas caci makimu. Beliau hanya membalasnya dengan kasih sayang."
Tangisan lelaki tua itu semakin keras.
Selama ini ia mengira Muhammad adalah orang yang jahat. Padahal orang yang paling baik kepadanya justru adalah Muhammad ﷺ.
Ia menyesal sedalam-dalamnya.
"Betapa hinanya diriku. Aku mencaci orang yang setiap hari memberiku makan. Aku memfitnah orang yang justru mengasihiku."
Dengan suara lirih ia berkata,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."
Abu Bakar pun ikut menangis.
Hari itu, lelaki tua yang selama ini buta terhadap kebenaran akhirnya mendapatkan cahaya hidayah.
Ia memang tidak dapat melihat dunia dengan matanya, tetapi Allah membukakan mata hatinya.
Kisah ini mengajarkan bahwa akhlak mulia memiliki kekuatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ tidak memenangkan hati manusia dengan kemarahan atau balas dendam, melainkan dengan kasih sayang, kesabaran, dan keikhlasan.
Beliau membalas kebencian dengan kebaikan, membalas hinaan dengan doa, dan membalas permusuhan dengan kasih sayang.
Tidak semua orang akan langsung memahami kebaikan yang kita lakukan. Bahkan, terkadang orang yang kita bantu justru menyakiti kita. Namun, jika niat kita benar karena Allah, maka tidak ada satu pun amal yang sia-sia.
Kasih sayang Rasulullah ﷺ menjadi teladan sepanjang zaman. Beliau mengajarkan bahwa dakwah yang paling menyentuh bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui akhlak yang mulia.

Komentar
Posting Komentar