Sabtu, 10 Juli 2026, menjadi hari yang begitu dinanti oleh keluarga besar guru MI Cijulang Nagrak. Hari itu bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan sebuah penutup masa liburan sekolah sebelum kembali mengemban amanah mendidik generasi penerus bangsa pada Senin, 13 Juli 2026. Setelah berbulan-bulan disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar, penilaian, serta berbagai aktivitas sekolah, akhirnya tibalah saatnya menikmati sejenak keindahan alam Sukabumi yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
Sejak pagi, rombongan guru beserta keluarga mulai berkumpul dengan wajah penuh semangat. Tawa kecil anak-anak, obrolan hangat antar guru, dan doa sebelum keberangkatan menjadi awal perjalanan yang penuh keberkahan. Kendaraan pun perlahan meninggalkan kampung Cijulang, membawa rombongan menuju salah satu destinasi wisata paling terkenal di Sukabumi, yaitu Pantai Citepus, Pelabuhanratu.
Perjalanan menuju Pelabuhanratu memberikan pengalaman tersendiri. Jalanan yang berkelok-kelok membelah perbukitan seolah mengajak setiap orang menikmati lukisan alam yang begitu memesona. Dari balik kaca kendaraan tampak jajaran pegunungan hijau berdiri gagah di kejauhan. Kabut tipis masih menyelimuti sebagian lereng gunung, sementara pepohonan yang tumbuh rapat menghadirkan udara yang segar dan menenangkan.
Sesekali kendaraan melintasi sungai yang mengalir jernih mengikuti lekukan lembah. Sungai itu tampak berkelok mengikuti kontur alam, berpadu harmonis dengan jalan raya yang juga meliuk mengikuti pegunungan. Pemandangan tersebut membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan. Tidak sedikit dari rombongan yang mengabadikan momen melalui kamera telepon genggam. Alam Sukabumi benar-benar menunjukkan keindahannya yang luar biasa.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya aroma khas laut mulai tercium. Angin pantai yang lembut masuk melalui jendela kendaraan. Tidak lama kemudian hamparan birunya Samudra Hindia terlihat dari kejauhan. Senyum para peserta wisata semakin mengembang. Anak-anak bersorak gembira ketika kendaraan memasuki kawasan Pantai Citepus.
Sesampainya di pantai, rombongan segera menyewa sebuah balai duduk yang berada tepat di bagian paling depan menghadap laut. Dari tempat itu, panorama pantai terlihat begitu sempurna. Hamparan pasir yang luas membentang, berpadu dengan laut biru yang seakan tidak memiliki ujung. Langit tampak sangat cerah tanpa dihiasi awan sedikit pun. Warna biru langit menyatu indah dengan birunya lautan sehingga menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan.
Deburan ombak datang silih berganti menghantam bibir pantai. Suaranya menghadirkan ketenangan sekaligus semangat. Ombak-ombak itu seakan memanggil setiap pengunjung untuk bermain dan menikmati keindahan alam ciptaan Allah SWT.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling bahagia. Mereka berlarian mengejar ombak, tertawa ketika air laut membasahi kaki mereka, lalu kembali berlari ke pasir. Ada yang sibuk membuat istana pasir, menggali lubang kecil, mencari kerang, hingga bermain lempar air bersama teman-temannya. Keceriaan mereka menjadi pemandangan yang begitu indah. Rasanya waktu berjalan sangat cepat ketika melihat tawa yang begitu tulus.
Sementara itu para guru menikmati suasana pantai sambil berbincang santai. Kesibukan sekolah yang biasanya memenuhi hari-hari mereka seolah menghilang tergantikan oleh semilir angin laut yang menyejukkan hati. Beberapa mengabadikan pemandangan, sebagian lagi memilih duduk menikmati deburan ombak yang tidak pernah berhenti.
Menjelang siang, suasana Pantai Citepus semakin ramai. Wisatawan dari berbagai daerah mulai berdatangan. Pedagang makanan, minuman, dan berbagai cendera mata memenuhi kawasan pantai. Aroma ikan bakar mulai tercium dari warung-warung yang berjejer di sekitar bibir pantai, menggoda siapa saja yang melintas.
Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Rombongan menikmati makan siang bersama dengan menu utama ikan bakar khas Pelabuhanratu yang baru selesai dibakar. Sementara itu, nasi liwet yang harum telah dibawa dari rumah masing-masing. Ditambah aneka lalapan segar dan sambal khas Sunda, hidangan sederhana itu terasa begitu istimewa.
Tidak ada restoran mewah yang mampu menggantikan nikmatnya makan bersama keluarga dan sahabat dengan pemandangan laut lepas di depan mata. Tiupan angin pantai, suara ombak, serta kebersamaan menjadikan setiap suapan terasa lebih lezat. Momen sederhana seperti inilah yang justru sering kali menjadi kenangan paling berharga.
Tanpa terasa waktu menunjukkan masuknya salat Zuhur. Seluruh rombongan kemudian melaksanakan salat berjamaah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat perjalanan dan keindahan alam yang telah diberikan.
Usai beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Cipanas Cisolok, tempat yang terkenal dengan fenomena geyser air panas alaminya. Perjalanan kembali disuguhi panorama pegunungan yang hijau, udara yang sejuk, serta jalan yang membelah hutan-hutan kecil. Semakin mendekati lokasi, hawa dingin pegunungan mulai terasa, memberikan suasana yang berbeda dengan hangatnya pantai yang baru saja ditinggalkan.
Sesampainya di kawasan geyser Cipanas, seluruh rombongan dibuat takjub. Dari kejauhan tampak air panas menyembur tinggi dari dalam perut bumi. Semburan itu keluar dengan kekuatan yang luar biasa, disertai uap putih yang membumbung ke udara. Bau belerang yang khas langsung menyambut para pengunjung, menjadi ciri bahwa kawasan tersebut merupakan sumber air panas alami yang berasal dari aktivitas vulkanik.
Fenomena alam itu menjadi pengingat akan kebesaran Allah SWT. Betapa luar biasanya ciptaan-Nya. Dari dalam bumi, air panas dapat menyembur dengan tekanan tinggi tanpa pernah berhenti selama bertahun-tahun. Semua itu menunjukkan betapa agung kekuasaan Sang Pencipta.
Sebagian rombongan memilih mandi di kolam air panas yang tersedia, menikmati hangatnya air yang dipercaya mampu memberikan rasa rileks pada tubuh. Sebagian lainnya cukup merendam kaki di aliran sungai air panas sambil menikmati udara pegunungan yang segar. Meski airnya cukup panas, sensasi tersebut justru terasa menyenangkan setelah seharian beraktivitas.
Waktu berlalu begitu cepat. Menjelang sore, rombongan melaksanakan salat Asar sebelum bersiap kembali pulang. Namun sebelum meninggalkan Pelabuhanratu, rasanya belum lengkap jika belum membawa buah tangan khas daerah tersebut. Hampir semua peserta membeli bakso ikan mentah khas Pelabuhanratu sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Cita rasanya yang gurih dan kenyal memang sudah terkenal menjadi salah satu kuliner favorit wisatawan.
Perjalanan pulang menjadi lebih tenang. Anak-anak yang sejak pagi bermain tanpa lelah akhirnya tertidur pulas di dalam kendaraan. Wajah mereka tampak damai setelah menikmati hari yang begitu menyenangkan. Para guru pun sebagian ikut terlelap, sementara yang lain masih berbincang ringan mengenang berbagai kejadian lucu selama perjalanan.
Sayangnya, ketika memasuki kawasan Kota Cibadak, rombongan harus menghadapi kemacetan panjang. Arus balik wisatawan yang bertepatan dengan malam Minggu dan berakhirnya masa liburan sekolah membuat jalan dipenuhi kendaraan. Meski demikian, tidak ada keluhan yang berarti. Semua menikmati perjalanan dengan penuh kesabaran, karena kebersamaan membuat perjalanan panjang terasa lebih ringan.
Akhirnya, setelah melewati kemacetan yang cukup panjang, rombongan tiba kembali di rumah masing-masing seusai salat Isya. Tubuh memang terasa lelah, tetapi hati dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan.
Perjalanan wisata ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Kebahagiaan justru tumbuh dari kebersamaan, tawa yang dibagikan, makanan yang disantap bersama, serta kesempatan menyaksikan langsung keindahan alam ciptaan Allah SWT. Pantai Citepus dengan deburan ombaknya, langit birunya yang memukau, dan hamparan pasir yang luas akan selalu menjadi kenangan indah. Begitu pula Geyser Cipanas Cisolok yang menyimpan keajaiban alam luar biasa, menjadi bukti nyata betapa agung dan sempurnanya ciptaan Allah.
Semoga perjalanan sederhana ini bukan hanya menjadi penutup liburan, tetapi juga menjadi bekal semangat untuk kembali mengabdi di dunia pendidikan. Dengan hati yang segar dan pikiran yang jernih, para guru MI Cijulang Nagrak siap kembali menyambut peserta didik, melanjutkan tugas mulia mendidik generasi penerus bangsa. Sebab, di balik perjalanan yang melelahkan, tersimpan kenangan yang akan selalu hidup dalam hati, mengingatkan bahwa setiap langkah yang ditempuh bersama adalah anugerah yang patut disyukuri.




Komentar
Posting Komentar