Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan akal yang diberikan-Nya, manusia mampu menciptakan berbagai penemuan yang memudahkan kehidupan. Dunia menjadi semakin terhubung, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, dan berbagai persoalan kehidupan dapat diselesaikan dengan bantuan sains serta teknologi. Islam sendiri tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan. Bahkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca, belajar, dan mencari ilmu.
Namun, di balik berbagai kemajuan
tersebut, muncul sebuah kecenderungan yang patut menjadi bahan renungan.
Sebagian manusia mulai menempatkan akal sebagai satu-satunya hakim atas segala
sesuatu. Sesuatu dianggap benar apabila dapat dijelaskan secara logis dan
dibuktikan melalui pancaindra atau eksperimen ilmiah. Sebaliknya, apabila tidak
dapat dijelaskan oleh logika atau belum dapat dibuktikan oleh sains, maka
dianggap sebagai mitos, dongeng, atau khayalan.
Padahal, kemampuan akal manusia
memiliki batas. Sains pun terus berkembang. Banyak hal yang dahulu dianggap
mustahil akhirnya terbukti mungkin setelah ilmu pengetahuan berkembang. Oleh
karena itu, keterbatasan pemahaman manusia terhadap suatu hal tidak selalu
berarti bahwa hal tersebut tidak ada.
Dalam Islam, terdapat wilayah yang
disebut perkara gaib (al-ghaib). Allah mengabarkan keberadaan malaikat,
jin, surga, neraka, kehidupan setelah kematian, hari kebangkitan, hisab, dan
berbagai perkara lain yang tidak dapat disaksikan langsung oleh manusia. Semua
itu bukan disampaikan oleh manusia biasa, melainkan oleh Allah Yang Maha
Mengetahui segala sesuatu.
Seorang mukmin menerima berita
tersebut bukan karena bertentangan dengan akal, melainkan karena meyakini
kebenaran wahyu. Akal digunakan untuk memahami petunjuk Allah, bukan untuk
menghakimi apakah wahyu layak dipercaya atau tidak. Justru akal yang sehat akan
menyadari bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas dibanding ilmu Allah yang
meliputi seluruh alam semesta.
Di zaman modern ini, sebagian orang
mulai beranggapan bahwa agama hanyalah produk budaya atau hasil pemikiran
manusia pada masa lampau. Mereka memandang bahwa manusia modern tidak lagi
membutuhkan aturan agama karena merasa telah memiliki ilmu pengetahuan yang
cukup untuk menentukan sendiri mana yang benar dan mana yang salah.
Pandangan seperti ini sesungguhnya
mengandung persoalan yang mendasar. Jika tidak ada ukuran yang berasal dari
wahyu, maka ukuran benar dan salah akan berubah mengikuti selera manusia. Apa
yang hari ini dianggap salah bisa menjadi benar di masa depan hanya karena
perubahan budaya atau opini masyarakat. Akibatnya, standar moral menjadi
relatif dan tidak memiliki landasan yang tetap.
Dalam Islam, halal dan haram bukan
ditetapkan berdasarkan selera manusia, melainkan berdasarkan ilmu dan hikmah
Allah. Seorang muslim meyakini bahwa setiap perintah dan larangan memiliki
tujuan yang baik, meskipun tidak semua hikmahnya dapat dipahami secara
langsung. Allah tidak membutuhkan ketaatan manusia, tetapi manusialah yang
membutuhkan petunjuk Allah agar hidupnya terarah.
Ketika manusia mulai menjadikan hawa
nafsu sebagai ukuran utama, maka yang muncul adalah pola pikir, "yang
penting enak", "yang penting suka sama suka", atau "yang
penting tidak merugikan orang lain". Padahal, dalam pandangan Islam, tidak
semua yang terasa menyenangkan pasti membawa kebaikan dalam jangka panjang.
Banyak hal yang tampak nikmat sesaat justru menyimpan dampak buruk bagi diri
sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak
peradaban besar mengalami kemunduran bukan karena kekurangan teknologi,
melainkan karena kerusakan moral. Ketika kejujuran mulai hilang, keluarga tidak
lagi dihargai, hawa nafsu dilepaskan tanpa batas, dan manusia hanya mengejar
kenikmatan dunia, maka lambat laun sendi-sendi kehidupan menjadi rapuh.
Islam hadir bukan untuk mematikan
kebahagiaan manusia. Sebaliknya, Islam memberikan aturan agar manusia
memperoleh kebahagiaan yang lebih utuh. Seperti halnya rambu-rambu lalu lintas
bukan dibuat untuk menghambat perjalanan, tetapi untuk menjaga keselamatan
pengguna jalan, demikian pula syariat Allah diturunkan sebagai petunjuk agar
manusia selamat di dunia maupun di akhirat.
Allah mengetahui hakikat manusia lebih
baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Karena itu, aturan yang datang
dari-Nya bukanlah bentuk pembatasan yang sia-sia, melainkan bentuk kasih
sayang. Banyak larangan dalam Islam yang pada akhirnya terbukti membawa manfaat
besar bagi kehidupan manusia, baik dari sisi kesehatan, sosial, ekonomi, maupun
ketenteraman jiwa.
Kemajuan sains seharusnya semakin
menumbuhkan rasa kagum kepada Sang Pencipta. Semakin luas manusia mempelajari
alam semesta, semakin tampak betapa teraturnya ciptaan Allah. Sains menjelaskan
bagaimana suatu proses terjadi, sedangkan agama menjelaskan mengapa kehidupan
memiliki tujuan. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Sains menjadi alat untuk
memahami sunnatullah di alam, sedangkan wahyu menjadi petunjuk agar manusia
menggunakan ilmunya secara benar.
Akal merupakan nikmat yang luar biasa,
tetapi akal bukanlah sesuatu yang mahatahu. Akal dapat salah, dapat berubah,
bahkan antar manusia pun sering berbeda pendapat. Oleh karena itu, Islam
menempatkan wahyu sebagai petunjuk utama, sementara akal menjadi sarana untuk
memahami dan mengamalkannya.
Seorang muslim juga diingatkan bahwa
kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah yang
sementara. Setinggi apa pun jabatan seseorang, sebanyak apa pun hartanya, atau
sehebat apa pun ilmunya, semuanya akan berakhir ketika kematian datang. Tidak
ada seorang pun yang mampu menghindarinya.
Kesadaran akan adanya kehidupan
akhirat memberikan makna yang lebih dalam terhadap setiap perbuatan. Orang yang
yakin akan adanya hari pembalasan akan lebih berhati-hati dalam bertindak,
lebih jujur dalam bekerja, lebih adil dalam memimpin, dan lebih peduli terhadap
sesama. Ia memahami bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Karena itulah Islam mengajarkan bahwa
seorang mukmin tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Kepedulian kepada
tetangga, membantu fakir miskin, menjaga amanah, menegakkan keadilan,
menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, dan menjaga lingkungan merupakan
bagian dari ibadah. Kebaikan seorang muslim seharusnya dapat dirasakan oleh
masyarakat di sekitarnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi,
umat Islam tidak perlu anti terhadap perkembangan zaman. Yang diperlukan adalah
kemampuan menyaring setiap perkembangan dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan
Sunnah. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk berdakwah, menyebarkan ilmu,
mempererat silaturahmi, dan memberikan manfaat bagi umat. Sains dapat menjadi
sarana untuk semakin mengenal kebesaran Allah, bukan alasan untuk menolak
keberadaan-Nya.
Akhirnya, setiap manusia akan sampai
pada satu kenyataan yang sama, yaitu kematian. Pada saat itu, kecanggihan
teknologi, popularitas, maupun kekayaan tidak lagi menjadi penolong. Yang akan
menyertai hanyalah iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
Semoga kemajuan zaman tidak menjadikan
kita semakin jauh dari Sang Pencipta, tetapi justru semakin rendah hati di
hadapan-Nya. Semoga akal yang Allah anugerahkan menjadi sarana untuk mengenal
kebesaran-Nya, bukan alasan untuk menolak petunjuk-Nya. Dan semoga kita
termasuk hamba-hamba yang mampu menyeimbangkan ilmu, iman, dan amal, sehingga
memperoleh kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

Komentar
Posting Komentar