Menjadi seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki amanah besar untuk membentuk akhlak, karakter, serta adab peserta didik. Ilmu memang sangat penting, tetapi ilmu tanpa akhlak akan kehilangan kemuliaannya. Oleh karena itu, terkadang seorang guru harus bersikap tegas demi kebaikan anak-anak di masa depan.
Sering kali terjadi ketika guru sedang menjelaskan pelajaran dengan sungguh-sungguh, ada saja siswa yang tiba-tiba meminta izin ke toilet, mengobrol, atau melakukan hal lain yang sebenarnya masih bisa ditunda beberapa menit. Jika memang benar-benar darurat, tentu guru akan memahaminya. Namun apabila hal tersebut dilakukan hanya karena bosan atau tidak ingin menyimak pelajaran, maka guru perlu memberikan batasan yang jelas.
Mengapa demikian? Karena kebiasaan kecil di dalam kelas akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang terbiasa memotong pembicaraan guru, tidak menyimak ketika orang lain berbicara, atau memilih melakukan hal lain saat seseorang sedang menjelaskan, dikhawatirkan akan membawa sikap yang sama ketika berada di rumah. Bisa saja suatu hari orang tua sedang memberikan nasihat, tetapi anak justru bersikap acuh tak acuh, tidak mendengarkan, bahkan meninggalkan orang tuanya sebelum pembicaraan selesai. Bukankah ini merupakan bentuk kurangnya adab?
Sekolah adalah tempat belajar ilmu sekaligus tempat melatih karakter. Menghormati orang yang sedang berbicara merupakan salah satu bentuk akhlak mulia yang harus ditanamkan sejak dini. Ketika guru meminta siswa untuk fokus mendengarkan, sebenarnya guru sedang mengajarkan rasa hormat, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang akan sangat berguna ketika anak hidup di tengah keluarga maupun masyarakat.
Ketegasan guru bukan berarti keras atau tidak memiliki kasih sayang. Justru ketegasan yang disertai kasih sayang adalah bentuk kepedulian yang paling nyata. Guru yang membiarkan semua perilaku tanpa aturan mungkin terlihat baik di mata anak, tetapi belum tentu sedang mendidik. Sebaliknya, guru yang menegur dengan cara yang santun dan penuh hikmah sedang membantu anak membangun kebiasaan baik yang akan menjadi bekal sepanjang hidupnya.
Orang tua dan guru memiliki tujuan yang sama, yaitu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia. Prestasi akademik memang membanggakan, tetapi akhlak adalah mahkota yang akan menjaga kehormatan seseorang di mana pun ia berada. Anak yang terbiasa menghargai gurunya akan lebih mudah menghormati kedua orang tuanya, menghargai pemimpinnya, dan bersikap santun kepada siapa pun.
Semoga setiap ketegasan yang dilakukan guru dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sebagai bentuk kemarahan. Sebab sejatinya, guru tidak hanya ingin melihat muridnya pandai mengerjakan soal, tetapi juga ingin melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang beradab, menghormati orang lain, dan mampu membawa manfaat bagi agama, bangsa, serta keluarganya. Sebagaimana pepatah mengatakan, "Ilmu akan mengangkat derajat seseorang, tetapi akhlaklah yang menjaga kemuliaannya."

Komentar
Posting Komentar