Namun hati sering kali tidak mengenal logika. Ia berjalan di jalan yang tidak dapat dipetakan oleh akal. Ia menyimpan kenangan di sudut-sudut yang bahkan waktu gagal menjangkaunya. Maka ketika senyummu lewat di hadapanku, ada sesuatu yang masih terjaga di dalam dada, sesuatu yang kukira telah lama terkubur bersama musim-musim yang berlalu.
Sering aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ini tanda bahwa aku tidak pandai bersyukur? Ataukah memang ada serpihan rasa yang tertinggal dan enggan pulang ke tempat asalnya? Aku mencari jawabannya pada hujan, pada desir angin yang melintas di antara dedaunan, pada langit senja yang perlahan kehilangan warna. Namun semuanya hanya menjawab dengan diam.
Mungkin memang ada cinta yang tidak benar-benar pergi. Ia hanya berubah wujud menjadi kenangan yang sesekali mengetuk pintu hati. Tidak meminta masuk, hanya mengingatkan bahwa ia pernah tinggal begitu lama di sana. Dan aku sadar, berpaling darimu ternyata bukan perkara mudah. Bukan karena aku ingin kembali memiliki, melainkan karena sebagian cerita hidupku pernah ditulis bersamamu.
Kini ku tak lagi berharap pada keajaiban. Aku tak meminta waktu berputar kembali. Aku hanya ingin belajar menerima bahwa ada perasaan yang harus dihormati tanpa harus diperjuangkan. Ada rindu yang cukup dikenang tanpa harus dipertemukan.
Wahai malam yang kelam, bentangkanlah selimut gelapmu yang luas. Telanlah rasa yang masih tersisa itu ke dalam sunyimu. Biarkan ia larut bersama bayang-bayang yang tak lagi memiliki nama. Simpanlah ia di antara bintang-bintang yang jauh, di tempat yang tak dapat dijangkau oleh ingatan.
Jika suatu hari rasa itu kembali mengetuk melalui mimpi, bisikkan padanya bahwa semuanya telah berakhir. Bahwa aku dan dia telah berjalan di jalan yang berbeda. Bahwa kenangan boleh tinggal, tetapi hati harus pulang.
Maka malam, jagalah rahasia ini dalam gelapmu. Jangan biarkan ia tumbuh lagi, bahkan walau hanya sekejap dalam mimpi.

Komentar
Posting Komentar