Dalam kehidupan, ada satu hal yang sering kali sulit dilakukan, yaitu menjaga sikap kepada orang tua ketika perbedaan pendapat mulai muncul. Saat kita masih kecil, orang tualah yang mengajari berjalan, berbicara, dan memahami kehidupan. Namun ketika waktu berjalan dan usia mereka semakin senja, keadaan perlahan berubah. Orang tua yang dulu kuat, tegas, dan bijaksana kadang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, bahkan sikapnya seperti kembali kepada masa kanak-kanak.
Di saat seperti itulah kesabaran seorang anak benar-benar diuji.
Kadang kita merasa berada di pihak yang benar. Kita merasa sudah berusaha perhatian, membantu, dan berbakti. Namun di mata orang tua, kita tetap dianggap anak kecil yang masih kurang memahami kehidupan. Sehebat apa pun kita di luar rumah, setinggi apa pun jabatan atau ilmu yang dimiliki, di hadapan orang tua kita tetaplah seorang bocah yang dulu mereka gendong dan rawat.
Karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat, tidak perlu berdebat keras dengan mereka. Walaupun kita merasa benar, menjaga hati orang tua jauh lebih penting daripada memenangkan argumentasi. Sebab ucapan seorang anak yang keras dapat meninggalkan luka dalam hati mereka, apalagi ketika usia sudah renta dan perasaan menjadi lebih halus.
Ada kalanya orang tua menilai kita kurang perhatian, kurang peduli, atau bahkan menyalahkan kita di depan orang lain. Terkadang tetangga atau saudara ikut mencampuri urusan tanpa mengetahui keadaan sebenarnya. Situasi seperti itu memang tidak mudah. Hati terasa sakit karena seolah-olah kita yang paling bersalah. Namun tidak semua hal harus dijelaskan kepada semua orang.
Tidak perlu sibuk membela diri di hadapan manusia. Tidak perlu memaksa semua orang memahami kebenaran kita. Cukup tunjukkan melalui sikap bahwa kita tetap hormat, tetap sabar, dan tetap berbuat baik kepada orang tua. Lambat laun orang akan melihat sendiri mana yang tulus dan mana yang hanya sekadar ucapan.
Kesabaran menghadapi orang tua yang sudah sepuh adalah bentuk kemuliaan akhlak. Semakin bertambah usia mereka, terkadang sifatnya berubah seperti anak kecil: mudah marah, mudah kecewa, ingin diperhatikan, dan ingin dituruti. Maka menghadapi mereka bukan dengan emosi, tetapi dengan kelembutan.
Ada ungkapan bijak yang mengatakan bahwa menghadapi orang tua yang sudah tua seperti memegang Al-Qur’an yang sudah lapuk. Dibaca sudah sulit, dibuang pun berdosa. Maknanya bukan merendahkan orang tua, tetapi menggambarkan bahwa dalam kondisi apa pun mereka tetap harus dihormati dan dijaga dengan penuh kasih sayang.
Diam terkadang lebih mulia daripada membalas perkataan yang menyakitkan. Menahan diri lebih indah daripada memperpanjang pertengkaran. Sebab ridha Allah sering kali hadir bersama ridha orang tua.
Kita juga harus sadar bahwa suatu hari nanti kita akan berada di posisi mereka. Tubuh melemah, pikiran tidak sekuat dulu, dan hati menjadi lebih sensitif. Apa yang kita lakukan kepada orang tua hari ini bisa menjadi gambaran bagaimana kelak anak-anak memperlakukan kita.
Karena itu, selama orang tua masih ada, jagalah mereka sebaik mungkin. Dengarkan keluh kesahnya, hormati perkataannya, dan jangan biarkan mereka merasa sendiri di masa tuanya. Walaupun terkadang hati terluka, balaslah dengan kesabaran dan kebaikan.
Sebab pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga adab dan kasih sayang kepada kedua orang tuanya.


Komentar
Posting Komentar