Bagi anak-anak zaman sekarang, cerita tentang hidup tanpa listrik dan internet mungkin terdengar seperti dongeng. Tetapi bagi kami yang pernah menjalaninya, itulah masa kecil yang paling indah dan paling membekas dalam ingatan.
Ketika matahari mulai tenggelam dan azan magrib berkumandang, anak-anak kampung segera bergegas menuju rumah seorang ustadz. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada ancaman atau hadiah. Semua datang karena sudah menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Di rumah sederhana itu kami berkumpul sambil membaca selawat bersama. Suara anak-anak yang melantunkan pujian kepada Nabi terdengar merdu di tengah gelapnya malam kampung.
Setelah salat magrib berjamaah, kegiatan mengaji dimulai. Kami duduk melingkar menghadap sebuah lampu tempel berkaca semprong. Cahaya lampu itu kecil, tetapi cukup menerangi wajah-wajah polos yang penuh semangat belajar. Ada cerita lucu yang sampai sekarang masih sering dikenang. Jika ada anak yang bersin terlalu dekat ke arah lampu, kadang kaca semprongnya pecah karena terkena ludah dan panas lampu. Seketika semua tertawa, tetapi setelah itu mengaji kembali dilanjutkan seperti biasa.
Meski hidup serba terbatas, semangat belajar agama saat itu sangat luar biasa. Anak-anak yang lebih besar biasanya melanjutkan mengaji setelah salat isya. Mereka belajar kitab kuning bersama ustadz hingga larut malam. Bahkan sebagian memilih menginap di rumah guru ngaji agar bisa melanjutkan belajar lagi selepas subuh. Tidak ada rasa malas, tidak ada alasan capek, apalagi sibuk bermain telepon genggam seperti sekarang.
Malam-malam tanpa listrik justru melahirkan generasi yang kuat, dekat dengan ilmu, dan akrab dengan kehidupan sosial. Kami belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari kebersamaan dan kesederhanaan.
Ketika musim liburan tiba, anak-anak kampung tidak diam di rumah sambil bermain game atau menatap layar berjam-jam. Kami memiliki dunia bermain sendiri yang begitu luas dan menyenangkan. Pagi hari biasanya diisi membantu orang tua mencari kayu bakar ke kebun bersama teman-teman sebaya. Perjalanan itu terasa seperti petualangan besar. Kami memanggul kayu sambil bercanda sepanjang jalan. Seperti acara Si Bolang.
Setelah pekerjaan selesai, petualangan berikutnya dimulai. Kami pergi memancing ke sungai. Sungai pada masa itu masih sangat jernih. Airnya bening, ikan-ikannya banyak, dan batu-batu sungainya terlihat jelas dari permukaan. Kadang kami tidak terlalu peduli apakah mendapat ikan atau tidak, karena yang paling menyenangkan justru bermain air dan berenang bersama teman-teman hingga sore hari.
Kini sungai itu mungkin masih ada, tetapi suasananya tidak lagi sama. Airnya tidak sejernih dulu dan anak-anak pun sudah jarang bermain di sana. Mereka lebih akrab dengan dunia digital daripada alam terbuka.
Permainan masa kecil kami juga sangat sederhana, tetapi mampu menghadirkan kebahagiaan luar biasa. Saat bulan Ramadan tiba, anak-anak kampung membuat ayunan dari bambu. Ada juga permainan lori-lorian yang dibuat dari pelepah pohon aren. Kami meluncur sambil tertawa riang tanpa mengenal rasa takut. Tidak ada permainan mahal, tidak ada baterai, tidak ada koneksi internet, tetapi kebahagiaan terasa begitu nyata.
Malam hari tetap menjadi waktu belajar. Walaupun listrik belum masuk kampung, anak-anak tetap berusaha belajar dengan penerangan seadanya. Ada yang memakai lampu minyak, ada juga yang menggunakan lampu patromaks. Mata terasa perih terkena asap, tetapi semangat belajar tidak pernah padam.
Televisi hitam putih menjadi hiburan langka yang sangat istimewa. Tidak semua rumah memilikinya. Bahkan untuk menyalakan televisi itu diperlukan aki yang harus diisi ulang menggunakan cairan tertentu. Tempat mengisinya pun jauh. Karena itu, menonton televisi hanya bisa dilakukan seminggu sekali atau pada acara tertentu saja. Tetapi justru karena jarang, menonton televisi menjadi sangat berharga dan dinanti-nanti.
Ketika kenaikan kelas di sekolah atau madrasah, suasana kampung berubah menjadi meriah. Anak-anak tampil satu per satu di atas panggung sederhana untuk berpidato atau “ngaleseng”. Panggungnya dihiasi daun kelapa dan kertas warna-warni hasil kerja bersama warga kampung. Lampu penerangannya menggunakan patromaks yang cahayanya terang berkilauan di malam hari.
Acara hiburan biasanya diisi dengan kasidah rebana. Suara tabuhan rebana dan lantunan lagu-lagu religi menggema di tengah kampung. Tidak ada pengeras suara canggih hanya berupa toa saja itupun mungkin meminjam dari masjid hhh, tidak ada panggung mewah, tetapi suasananya begitu hidup dan membahagiakan. Semua warga berkumpul, tertawa, menikmati acara, dan saling mengenal satu sama lain.
Begitulah kehidupan masa kecil kami di Cijulang. Hidup yang sederhana tetapi penuh makna. Tidak banyak fasilitas, tetapi hati terasa dekat satu sama lain. Tidak ada internet, tetapi hubungan antarwarga sangat erat. Tidak ada media sosial, tetapi silaturahmi berjalan hangat setiap hari.
Kini zaman telah berubah. Listrik sudah masuk ke pelosok kampung. Internet hadir di genggaman tangan. Anak-anak sekarang bisa melihat dunia hanya lewat layar kecil. Teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi tanpa disadari ada banyak hal yang perlahan hilang: kebersamaan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan alam.
Ketika cerita masa lalu itu disampaikan kepada anak-anak zaman sekarang, mereka sering menganggapnya seperti cerita dongeng atau kisah dalam film Si Bolang. Mereka sulit membayangkan hidup tanpa listrik, tanpa telepon genggam, tanpa permainan digital. Padahal justru dari keterbatasan itulah lahir kenangan paling indah yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.
Masa kecil di kampung mengajarkan arti perjuangan, rasa syukur, hormat kepada guru, dan pentingnya kebersamaan. Kami belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan. Kadang kebahagiaan hadir dari cahaya lampu semprong, suara rebana di malam hari, tawa teman-teman di sungai, dan kebersamaan sederhana di sebuah kampung kecil bernama Cijulang.
Waktu terus berjalan. Banyak orang berubah, banyak tempat berubah, dan banyak kebiasaan lama mulai hilang. Tetapi kenangan itu tetap hidup di dalam hati. Ia menjadi bagian dari sejarah kehidupan yang tidak akan pernah tergantikan.
Dan mungkin benar, bagi anak-anak sekarang cerita itu terdengar seperti dongeng. Namun bagi kami yang pernah hidup di dalamnya, itulah kisah nyata tentang masa kecil yang penuh cahaya, meski hidup tanpa listrik.



Komentar
Posting Komentar