Banyak orang memahami bahwa masuk surga bukan semata-mata karena banyaknya amal ibadah yang dilakukan, melainkan karena rahmat dan pertolongan Allah SWT. Pemahaman ini benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Namun, pemahaman tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan ibadah atau bahkan meninggalkannya sama sekali.
Amal ibadah merupakan bentuk ketaatan, rasa syukur, dan bukti keimanan seorang hamba kepada Allah. Seorang muslim yang rajin salat, berpuasa, bersedekah, dan melakukan berbagai amal saleh tidak boleh merasa bahwa dirinya pasti masuk surga karena amalnya. Sebab, sebesar apa pun amal manusia tetap tidak sebanding dengan nikmat Allah yang telah diberikan selama hidupnya. Oleh karena itu, orang yang beribadah harus tetap rendah hati dan selalu berharap kepada rahmat Allah.
Di sisi lain, seseorang yang tidak mau beribadah juga tidak pantas merasa yakin akan masuk surga dengan alasan bahwa surga diberikan karena rahmat Allah. Rahmat Allah memang sangat luas, tetapi Allah juga memerintahkan manusia untuk beriman dan beramal saleh. Mengabaikan perintah-Nya lalu berharap mendapatkan balasan yang baik merupakan pemikiran yang tidak tepat.
Ibarat seorang pelajar yang tidak pernah belajar, tidak pernah mengerjakan tugas, dan tidak pernah mengikuti pelajaran, tentu tidak pantas jika ia merasa yakin akan mendapatkan nilai terbaik. Demikian pula dalam kehidupan beragama. Ibadah adalah usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan rahmat Allah adalah karunia yang menyempurnakan usaha tersebut.
Karena itu, sikap yang benar adalah rajin beribadah, menjauhi maksiat, serta selalu memohon rahmat dan ampunan Allah. Jangan sombong dengan banyaknya amal yang dimiliki, tetapi jangan pula merasa aman tanpa amal. Seorang mukmin harus berjalan di antara rasa takut akan kekurangan dirinya dan harapan besar terhadap rahmat Allah. Dengan demikian, ia akan senantiasa berusaha menjadi hamba yang taat sekaligus rendah hati di hadapan Tuhannya.

Komentar
Posting Komentar