Di zaman sekarang, uang bukan sekadar alat tukar
atau simbol kekayaan. Lebih dari itu, uang telah menjadi penentu nilai
seseorang di mata masyarakat. Sebesar apapun potensi, sepintar apapun ucapan,
dan setinggi apapun gagasan seseorang, jika tidak disertai kekuatan finansial,
maka suaranya seringkali tidak dianggap. Ini adalah kenyataan sosial yang
mungkin terasa pahit, tetapi sangat nyata dirasakan oleh banyak orang hari ini.
Kita hidup dalam
sistem yang secara tidak langsung menjadikan uang sebagai “filter” validasi.
Saat seseorang berbicara tentang ide-ide besar, visi perubahan, atau solusi
atas masalah sosial, hal pertama yang ditanyakan bukan “sejauh mana idenya bisa
berdampak?”, melainkan “siapa dia?” atau “punya apa dia?”. Jika yang berbicara
bukan orang kaya, maka kemungkinan besar pendapatnya akan diabaikan, bahkan
dicibir. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa banyak pemikir besar lahir
dari keterbatasan ekonomi. Namun hari ini, idealisme seringkali kalah oleh
realitas materialisme.
Sebaliknya, ketika
seseorang memiliki kekayaan—entah diperoleh dengan cara yang benar atau
tidak—segala ucapannya tiba-tiba dianggap penting. Ia bisa bicara hal sepele,
bahkan ide buruk sekalipun, tapi tetap akan dikelilingi oleh banyak orang.
Bukan karena kualitas pikirannya, tetapi karena dompetnya yang tebal. Uang
menciptakan magnet sosial yang sangat kuat: mengundang pujian, menghapus
kesalahan, dan bahkan membungkam kritik.
Fenomena ini
melahirkan paradoks sosial yang berbahaya. Kita mulai kehilangan kepekaan
terhadap isi dan lebih fokus pada siapa yang menyampaikan. Kita lebih memilih
ikut arus orang kaya, daripada memberi ruang bagi mereka yang memiliki isi
pikiran tetapi belum punya kekuatan ekonomi.
Namun, meski dunia
bisa saja mengabaikan orang-orang yang tidak punya uang hari ini, sejarah
selalu menyimpan ruang bagi mereka yang bersuara dengan kejujuran, perjuangan,
dan visi jangka panjang. Maka tugas kita bukan hanya mengkritisi sistem yang
ada, tetapi juga memperjuangkan ruang-ruang di mana gagasan dan nilai bisa
berbicara lebih keras daripada kekayaan.

Komentar
Posting Komentar