Pada saatnya nanti, semua yang kita miliki di dunia ini akan perlahan memudar. Kegagahan yang dahulu dibanggakan akan sirna, kehebatan yang diagungkan akan musnah, bahkan ketampanan atau kecantikan yang menjadi kebanggaan pun akan hilang dimakan usia. Tidak ada yang mampu bertahan melawan waktu, sebab sejatinya tidak ada yang abadi di dunia ini.
Usia kita akan terus
bertambah, tahun demi tahun berganti, hingga akhirnya tubuh yang dulu kuat
menjadi rapuh, wajah yang dulu bercahaya kehilangan sinarnya, dan langkah yang
dahulu tegas berubah menjadi gontai. Semua ini adalah sunnatullah, hukum alam yang
tidak bisa kita tolak. Kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita lebih
bijak dalam menjalani hidup.
Jika segala hal yang
bersifat duniawi akan hilang, maka apa yang sejatinya harus kita jaga?
Jawabannya adalah kebaikan. Hanya amal, akhlak, dan perbuatan baik yang akan
tetap terkenang dan membawa manfaat, bahkan setelah kita tiada. Oleh sebab itu,
selama kita masih diberikan kesempatan, alangkah baiknya kita mempergunakan
waktu dengan sebaik-baiknya.
Berbuat baik untuk
diri sendiri adalah langkah awal. Menjaga hati dari iri dan dengki, menjaga
pikiran dari keburukan, serta merawat tubuh dengan hal-hal yang bermanfaat
adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri. Namun, kebaikan tidak boleh
berhenti pada diri saja. Kita juga perlu berbagi pada orang lain. Senyum tulus,
bantuan kecil, kata-kata lembut, atau bahkan doa yang kita panjatkan untuk
sesama, semuanya akan bernilai di hadapan Tuhan.
Pada akhirnya,
hidup bukan tentang seberapa lama kita mampu bertahan dalam kegagahan,
melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan. Sebab waktu
akan menghapus rupa, namun tidak akan mampu menghapus jejak amal. Maka, marilah
kita selalu waspada, rendah hati, dan berusaha menebar kebaikan, agar ketika
usia kita lapuk, kita masih tetap hidup dalam kenangan indah orang-orang yang
pernah merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Komentar
Posting Komentar