Alhamdulillah, dalam kesunyian duhur itu, saya tengah duduk sendiri di rumah. Hari berjalan seperti biasa, tanpa ada sesuatu yang saya perkirakan akan menjadi istimewa. Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Sejenak saya mengira itu adalah kurir paket yang biasa datang mengantarkan barang. Namun, ketika saya keluar, ternyata bukan. Orang yang datang pun bukan seseorang yang saya kenal. Dengan sopan ia menyampaikan, “Pak Maskun, ini ada kiriman dari Pak Dudin.”
Saya terdiam sejenak, mencoba memahami ucapannya. “Kiriman dari Pak Dudin?” batin saya penuh tanda tanya. Kemudian saya lihat bungkusan-bungkusan yang dibawa. Masya Allah, ternyata itu adalah beras, sayuran segar, dan buah-buahan hasil panen. Seketika hati saya bergetar, perasaan haru menyeruak begitu kuat.
Biasanya saya yang mengirim sesuatu kepada orang lain. Namun kali ini justru sebaliknya. Bukan saya yang memberi, melainkan saya yang diberi. Bukannya saya yang berperan sebagai pengirim, melainkan sebagai penerima. Dan bukan sedikit yang saya terima, melainkan begitu banyak. Sampai saya terdiam, tak mampu berkata-kata, hanya mampu menatap dengan penuh rasa syukur.
Kiriman itu seolah bukan sekadar beras, sayuran, dan buah-buahan. Ia membawa makna yang jauh lebih dalam. Ada ketulusan di balik setiap genggam beras yang dititipkan, ada cinta persaudaraan yang terbungkus dalam sayuran hijau segar itu, ada manisnya silaturahmi yang tersimpan dalam buah-buahan yang ranum. Semua seakan menjadi bahasa kasih sayang dari Allah yang dititipkan melalui tangan seorang guru, seorang sahabat, seorang saudara.
Saya membatin, “Ya Allah, betapa Engkau Maha Mengatur rezeki. Kadang kami memberi, kadang kami menerima. Kadang tangan ini menyalurkan, kadang tangan ini digenggam penuh pemberian. Semua adalah bagian dari kasih sayang-Mu yang tidak pernah berhenti mengalir.”
Rasa haru itu semakin dalam ketika menyadari bahwa kiriman tersebut bukanlah sesuatu yang kecil. Hasil panen yang dikirimkan begitu banyak, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa hari. Bukan hanya soal jumlahnya, melainkan juga keberkahan dan ketulusan hati yang menyertainya. Ada doa yang menyertai setiap ikatan sayuran, ada keikhlasan dalam setiap butir beras, ada kasih dalam setiap buah yang matang.
Saya pun merenung, bahwa silaturahmi tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata atau pertemuan. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian yang nyata, dalam wujud kiriman sederhana namun penuh makna. Kadang ia mengetuk pintu rumah tanpa kita sangka-sangka, membawa serta kebahagiaan yang membuat hati terenyuh.
Kiriman itu membuat saya semakin sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menerima dengan lapang dada. Bukankah Allah yang Maha Kaya selalu mengajarkan bahwa rezeki itu bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka-sangka? Dan bukankah salah satu tanda indahnya persaudaraan adalah ketika kita saling menguatkan, saling berbagi, saling mendoakan dalam diam?
Malam harinya, saya masih teringat peristiwa itu. Saat menatap beras di dapur, sayuran di meja, dan buah-buahan di keranjang, hati saya dipenuhi rasa syukur. Air mata hampir menetes, bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang tak terucapkan. Bahagia karena merasakan kasih sayang Allah yang begitu dekat. Bahagia karena masih ada sahabat dan guru yang tulus memberi tanpa pamrih. Bahagia karena silaturahmi yang terjalin membawa berkah yang nyata.
Alhamdulillah, hari itu saya belajar bahwa rezeki bukan hanya soal materi, melainkan juga tentang rasa haru yang menenangkan hati. Saya berdoa semoga Allah melipatgandakan pahala bagi Pak Dudin dan keluarganya, menjadikan setiap butir beras, setiap helai sayuran, dan setiap buah yang dikirim sebagai jalan menuju keberkahan hidupnya. Dan semoga saya pun bisa meneladani kebaikan itu, agar suatu saat bisa berbagi kembali kepada orang lain dengan ketulusan yang sama.
Kiriman tak terduga itu telah menjadi pelajaran berharga: bahwa kebaikan selalu punya cara untuk sampai pada yang membutuhkan. Kadang ia datang melalui orang yang kita kenal, kadang melalui orang yang sama sekali asing. Namun satu hal yang pasti, kebaikan itu selalu sampai pada waktunya.

Komentar
Posting Komentar