Dalam kehidupan ini, kita tidak bisa
menghindari pertemuan dengan berbagai macam karakter manusia. Ada yang tulus,
ada yang penuh kasih, namun tidak jarang pula kita bertemu dengan orang-orang
yang suka menyakiti, merendahkan, bahkan mengkhianati. Rasa sakit yang
ditimbulkan seringkali menimbulkan keinginan untuk membalas, atau setidaknya
berharap mereka merasakan penderitaan yang sama. Namun, apakah dendam adalah
jalan terbaik?
Sebenarnya, diam adalah bentuk kekuatan yang jauh lebih elegan daripada balas dendam. Mengapa? Karena ketika kita memilih untuk diam, kita sedang melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kebesaran hati. Kita membuktikan bahwa kita tidak serendah orang yang menyakiti kita. Diam bukan berarti lemah, tetapi tanda bahwa kita cukup kuat untuk tidak terpengaruh oleh provokasi negatif.
Orang yang senang menyakiti orang lain seringkali dilandasi oleh sifat sombong. Mereka merasa lebih hebat, lebih berkuasa, atau lebih penting dari orang lain. Namun sejarah, pengalaman hidup, bahkan ajaran agama dan moralitas membuktikan bahwa kesombongan tidak akan membawa kebaikan dalam jangka panjang. Kesombongan ibarat api yang membakar perlahan dari dalam. Orang yang sombong kerap buta terhadap kesalahannya sendiri. Mereka menutup telinga terhadap kritik, dan hanya menyukai pujian. Akibatnya, ketika mereka jatuh, tidak banyak orang yang bersedia menolong. Kesendirian dan kehancuran menjadi konsekuensi alami dari kesombongan yang tidak disadari sejak awal.
Namun di sisi lain, seorang karyawan
yang dulu sering dimarahi dan direndahkan memilih untuk diam dan tetap bekerja
dengan baik. Ketika sang manajer dipecat, justru karyawan inilah yang ditunjuk
sebagai penggantinya karena loyalitas dan kemampuannya. Ia tidak membalas,
tidak dendam, tapi semesta seakan memberi keadilan.
Dalam lingkaran pertemanan, kita juga sering menjumpai orang yang hanya datang saat butuh, namun menghilang saat kita susah. Bahkan, ada yang menghina atau membicarakan kita di belakang. Sakit hati? Wajar. Tapi membalas dengan cara yang sama hanya akan membuat kita berada di level yang sama rendahnya.
Salah satu teman saya mengalami hal ini. Ia dijauhi oleh kelompok pertemanan karena dianggap “tidak berguna”. Ia sedih, tetapi tidak marah. Ia memilih fokus memperbaiki diri, belajar, dan memperluas jaringan pertemanan baru. Beberapa tahun kemudian, ia sukses membangun bisnis. Teman-teman lamanya justru datang kembali, berharap bisa “menumpang sukses”. Di sinilah terlihat bahwa waktu dan sikap diam jauh lebih ampuh daripada dendam.
Mengapa Kita Harus Memilih Diam dan Ikhlas?
- Diam
Menunjukkan Kedewasaan.
Membalas bukanlah solusi. Diam dan terus melangkah maju menunjukkan bahwa kita tidak terjebak dalam lingkaran negatif. - Dendam Menguras
Energi.
Terus-menerus memikirkan balas dendam hanya akan membuat hidup kita penuh kebencian dan kecemasan. - Orang Sombong
Akan Jatuh dengan Sendirinya.
Kita tidak perlu menjatuhkan mereka. Waktu dan kesombongan mereka sendiri yang akan membawa mereka ke titik terendah. - Kita Bertumbuh,
Mereka Tertinggal.
Saat kita fokus memperbaiki diri, orang yang menyakiti kita akan tertinggal di belakang, sibuk dengan kesalahan mereka sendiri.
Tidak ada gunanya menyimpan dendam
kepada orang yang menyakiti kita. Dunia ini sudah terlalu penuh dengan
kebencian, maka jangan kita tambah lagi. Lebih baik kita memilih diam,
memperbaiki diri, dan menunggu waktu yang membuktikan segalanya. Sebab orang yang
sombong, cepat atau lambat, akan hancur oleh sikapnya sendiri. Dan kita? Kita
akan tetap berdiri, bukan karena membalas, tapi karena mampu melewati semuanya
dengan hati yang tenang.






keren teruskan menulisnya
BalasHapus