Setiap orang
tua tentu mendambakan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, cerdas, dan
bermanfaat. Namun, sering kali ada hal mendasar yang terabaikan dalam proses
mendidik anak, yaitu pendidikan agama. Di tengah kesibukan mencari nafkah,
mengurus rumah tangga, atau bahkan karena pengaruh lingkungan, tidak sedikit
orang tua yang kurang memberikan perhatian pada pembelajaran agama anak-anak
mereka.
Fenomena ini
dapat kita lihat di banyak tempat, termasuk di pedesaan yang sebenarnya masih
kaya dengan keberadaan guru ngaji dan kegiatan keagamaan. Ironisnya, masih ada
anak-anak yang telah duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, namun belum
mampu membaca huruf Al-Qur’an. Kondisi ini tentu menimbulkan keprihatinan,
sebab pada usia tersebut, seorang anak seharusnya sudah mulai terbiasa membaca,
memahami, bahkan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Tanggung Jawab
Utama Orang Tua
Pendidikan
agama bukan semata-mata tanggung jawab sekolah atau guru ngaji di kampung.
Orang tua memegang peran utama dalam membentuk fondasi iman dan akhlak anak
sejak dini. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam
keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau
Majusi. Hadis ini memberikan pesan jelas bahwa arah kehidupan seorang anak
sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya.
Apabila orang
tua tidak peduli terhadap pendidikan agama anaknya, maka anak akan kehilangan
arah dalam menjalani kehidupan. Anak mungkin tumbuh dengan pengetahuan umum
yang baik, namun miskin pemahaman agama. Padahal, ilmu agama ibarat cahaya yang
menuntun manusia dalam setiap langkahnya, agar tidak tersesat oleh gemerlap
dunia dan godaan hawa nafsu.
Lingkungan yang
Mendukung
Sungguh
disayangkan apabila di sebuah kampung yang masih banyak terdapat guru ngaji
gratis, anak-anak justru tidak dimanfaatkan untuk belajar. Kesempatan emas ini
seharusnya menjadi ladang pahala bagi orang tua untuk mengarahkan
putra-putrinya agar rajin mengaji. Guru ngaji yang dengan ikhlas memberikan
waktunya adalah anugerah besar yang tidak semua daerah memilikinya. Di
kota-kota besar, banyak orang tua harus mengeluarkan biaya tidak sedikit hanya
untuk mencari guru privat mengaji.
Namun, semua
fasilitas itu akan menjadi sia-sia bila orang tua tidak memiliki kepedulian.
Anak yang dibiarkan begitu saja, tanpa motivasi dan tanpa pengarahan, cenderung
lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat hiburan semata. Televisi, HP, atau
permainan modern bisa dengan mudah menyita perhatian mereka, sementara
Al-Qur’an tergeletak di rak tanpa pernah disentuh.
Dampak bagi
Anak dan Orang Tua
Ketika seorang
anak tumbuh tanpa dasar agama yang kuat, ia akan kesulitan menghadapi tantangan
hidup di kemudian hari. Akhlak bisa mudah rapuh, pergaulan bisa salah arah, dan
nilai moral bisa terabaikan. Pada akhirnya, semua kesalahan dan penyimpangan anak
akan kembali menjadi tanggung jawab orang tuanya. Seorang ayah dan ibu akan
dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tentang bagaimana mereka
menjaga amanah berupa anak.
Anak adalah
cerminan rumah tangga. Bila anak terbiasa dengan bacaan Al-Qur’an sejak kecil,
maka hatinya akan lembut, perilakunya lebih terarah, dan hidupnya penuh berkah.
Sebaliknya, bila anak jauh dari agama, maka kehidupannya akan mudah diterpa
kebingungan dan kegelisahan.
Harapan dan
Solusi
Sudah saatnya
orang tua kembali menyadari pentingnya pendidikan agama. Tidak ada kata
terlambat untuk memperbaiki keadaan. Mulailah dengan langkah kecil, misalnya
membiasakan anak membaca doa sehari-hari, mengajaknya shalat berjamaah, atau
sekadar membacakan kisah-kisah teladan dari Al-Qur’an. Setelah itu, arahkan
anak untuk belajar membaca Al-Qur’an kepada guru ngaji yang ada di kampung.
Selain itu,
orang tua juga perlu memberi contoh nyata. Anak adalah peniru ulung. Jika orang
tuanya rajin mengaji, maka anak pun akan terdorong untuk melakukan hal yang
sama. Keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar perintah.
Penutup
Mendidik anak
bukan hanya soal memberi makan, pakaian, dan sekolah formal, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai agama yang akan menjadi bekal mereka sepanjang hidup.
Jangan sampai kita sebagai orang tua menyesal di kemudian hari karena lalai
memberikan arah yang benar bagi anak-anak kita.
Anak yang
tumbuh dengan dasar agama yang kuat bukan hanya menjadi penyejuk mata bagi
orang tua di dunia, tetapi juga menjadi penolong di akhirat kelak. Karena itu,
mari kita perhatikan kembali pendidikan agama anak-anak kita, agar mereka
tumbuh sebagai generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi
masyarakat.

Komentar
Posting Komentar