Langsung ke konten utama

Mengapa Yang Berpendidikan Kadang Kalah dengan Yang Tidak Berpendidikan ?

 



Di tengah masyarakat, sering kita jumpai kenyataan yang membuat banyak orang bertanya-tanya: mengapa ada orang yang berpendidikan tinggi tetapi masih kalah secara ekonomi dibandingkan mereka yang bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan formal dengan baik? Fenomena ini kadang menimbulkan anggapan keliru, seolah-olah sekolah itu tidak penting, padahal pendidikan tetaplah pondasi yang sangat berharga dalam kehidupan.

Pendidikan bukanlah sekadar selembar ijazah atau gelar akademis, melainkan proses membangun pola pikir, kedisiplinan, cara pandang, serta keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan hidup. Namun, di lapangan, memang ada beberapa faktor yang membuat orang yang berpendidikan kalah bersaing secara ekonomi dengan mereka yang tidak memiliki latar belakang akademik tinggi.

Faktor Keberanian dan Kegigihan

Sering kali, orang yang tidak menempuh pendidikan formal tinggi justru terdesak oleh keadaan sehingga mau tidak mau harus berani mengambil risiko. Mereka berani membuka usaha, berani mencoba hal baru, dan tidak terlalu terikat pada zona nyaman. Sementara itu, sebagian orang yang menempuh jalur pendidikan tinggi terkadang terlalu berhitung, ragu memulai, dan menunggu kesempatan datang dengan sendirinya.

Pola Pikir Mandiri

Banyak orang sukses yang pendidikannya rendah, tetapi memiliki mentalitas mandiri yang kuat. Mereka tidak malu berjualan di pinggir jalan, membuka warung kecil, atau memulai usaha dari nol. Sementara itu, sebagian orang terdidik sering terjebak pada gengsi. Lulusan perguruan tinggi terkadang merasa tidak pantas untuk bekerja di bidang yang dianggap “rendah”, padahal justru di situ banyak peluang yang bisa dikembangkan.

Manfaat Pendidikan yang Tidak Selalu Langsung Terlihat

Pendidikan sebenarnya tidak selalu menjanjikan hasil instan. Apa yang dipelajari di bangku sekolah atau kuliah sering kali menjadi bekal jangka panjang. Ilmu, cara berpikir logis, kemampuan komunikasi, hingga keahlian memecahkan masalah adalah modal yang bisa membawa seseorang meraih kesuksesan bila digabungkan dengan keberanian, kerja keras, dan ketekunan.

Sayangnya, banyak orang yang menyerah di tengah jalan. Ketika setelah lulus belum mendapatkan pekerjaan layak, mereka merasa sia-sia menempuh pendidikan. Padahal, yang perlu dilakukan justru mengasah diri, membuka peluang, dan berani menciptakan kesempatan, bukan hanya menunggu panggilan kerja.

Pendidikan Tetap Penting

Fenomena ini seharusnya tidak membuat orang malas sekolah. Justru ini menjadi pengingat bahwa pendidikan formal perlu dilengkapi dengan pendidikan karakter, keberanian berwirausaha, serta semangat pantang menyerah. Belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga di lapangan kehidupan.

Sekolah tetap menjadi pondasi, karena dengan ilmu pengetahuan, seseorang bisa membaca peluang lebih luas, mengembangkan usaha dengan cara lebih sistematis, dan menghadapi tantangan dengan bekal logika yang terlatih. Pendidikan juga membuka banyak jalan untuk berkembang, baik sebagai karyawan profesional, wirausahawan, peneliti, maupun pemimpin di berbagai bidang.

 

Penutup

Jadi, tidak benar jika melihat orang sukses tanpa ijazah lalu menjadikan itu alasan untuk meremehkan pendidikan. Justru, kita bisa belajar dari kegigihan mereka sekaligus tetap menimba ilmu agar keduanya saling melengkapi. Bersekolah tanpa semangat berjuang akan sia-sia, sementara semangat berjuang tanpa ilmu akan terbatas.

 

Maka, mari tetap memegang prinsip bahwa belajar adalah kewajiban sepanjang hayat. Ilmu dan keberanian berjalan berdampingan, menjadi kunci membuka pintu kesuksesan di masa depan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Bergizi Gratis Perdana di MI Cijulang

  Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cijulang menyambut dengan penuh suka cita program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pertama kali dilaksanakan di sekolah. Program ini disambut sangat gembira oleh para siswa, karena selain memberikan pengalaman baru, juga menambah semangat belajar mereka di sekolah. Sejak pagi, wajah anak-anak terlihat ceria menantikan momen istimewa ini. Ketika makanan bergizi dibagikan, mereka tampak begitu antusias dan menikmatinya dengan lahap. Menu yang disajikan pun sehat dan bervariasi, mulai dari nasi, lauk pauk berprotein, sayuran segar, hingga buah-buahan. Hal ini tentu menjadi langkah baik dalam mendukung pertumbuhan fisik maupun kecerdasan anak-anak. Kepala MI Cijulang menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah atas terselenggaranya program MBG ini. Menurut beliau, program ini tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan siswa, tetapi juga menjadi motivasi tambahan agar anak-anak lebih rajin belajar. Dengan tubuh yang sehat dan gizi ...

SOAL LATIHAN IPAS KELAS 5 SD/MI

  Belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) adalah cara menyenangkan untuk menambah wawasan. Untuk melatih pemahaman, silakan kerjakan soal-soal IPAS yang tersedia. Kegiatan ini tidak bersifat wajib, sehingga siapa pun bebas memilih untuk berpartisipasi. Soal IPAS diperuntukkan bagi masyarakat umum, tanpa batasan usia maupun latar belakang pendidikan. Menariknya, soal tersebut dapat dikerjakan di mana saja dan kapan saja sesuai kenyamanan masing-masing. Dengan begitu, belajar IPAS menjadi lebih fleksibel sekaligus bermanfaat. Semakin sering berlatih, semakin mudah memahami konsep-konsep penting dalam IPAS yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Unutk mengerjakan soal tersebut silahkan klik  kata yang di cetak  miring         :   Klik di sini soalan IPAS Kelas 5 MI /SD

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...