Langsung ke konten utama

Tebing Di Ujung Gang Bagian Tujuh

 

7. Pelabuah Ratu

Dua hari berlalu kegiatan itu selesai dengan serangkaian acara yang sangat menarik.Tidak terasa suda di ujung acara. Kami berdua pun sudah siap untuk pulang  menuju ibu kota lagi. Sore itu aku dan mas Akbar  berkemas karena akan meluncur pulang. Padahal besoknya hari Minggu,libur. Mas akbar ada keperluan katanya mau menjemput  mertuanya di Bandara.

Pikiranku sedikit tenang dengan pemandangan alam yang begitu mempesona. Senja yang memaksa matahari harus kembali, seakan ditelan bumi. langit biru berubah merah. Nelayan sudah siap  melaut  mencari ikan demi kebutuhan. Burung malam sudah keluar dari sarangnya yang dari puncak gunung dipohon yang tinggi. Di tengah laut mulai  gelap hanya lampu perahu seperti bintang  yang berkelap-klip dilihat dari kejauhan. Mobil yang aku kendarai  melaju  meninggalkan  Pelabuhan Ratu. Ketika pagi tadi kanan dan kiri kita disuguhi dengan pemandangan pegunungan yang hijau, kini  gelap mulai merayap hanya lampu jalan  yang terang.

Sebenarnya Pelabuhan Ratu menyimpan kenangan yang tidak akan terlupakan. Ketika senja mulai datang kugandeng tangan Mey menelusuri pantai Citepus yang anginya berhembus terus menerus. Waktu itu hati dan perasaan kami menyatu  mungkin itulah bulan madu setelah akad nikah  kami tidak dirumah. Genggaman tangan Mey walau sudah lama di massa lalu tapi  masih  terasa, namun sekarang terasa disayat sembilu. Lincah manja dan senyum renyah merayu meremukan  kalbu. Sampai malam kami berdua  tidak ingin berpisah walau hanya sedetik saja. Dua insan yang sedang dimabuk asmara tapi kami sudah sesuai syara. Cinta kami tidak terlarang karena sudah kami halalkan lewat ijab Kabul di pernikahan. tidak terpikir semua akan berakhir waktu itu hati sedang berbunga bunga.

Dalam malam  yang kelam datanglah sinar rembulan  dua insan  bermandi cahaya dalam kegembiraan. Seakan dunia milik berdua dan berada dalam surganya dunia. Senja hilang berganti malam datanglah sang rembulan  memberikan cahanya agar malam itu pantai tidak kelam. Deburan ombak yang tak pernah berhenti  seperti hati kami yang saling berjanji dan mencintai. Angin malam berhembus  membawa kesusahan kami ke tengah lautan  dan hanya meninggalkan kebahagian. Duduk berdua di pinggir pantai sambil bercengkrama saling   memegang tangan menikmati indahnya alam.

Walau hanya sederhana dalam pandangan tapi ketika hati sedang  dilanda asmara semua berubah  menjadi sesuatu yang sangat  mewah. Laut yang seakan memanjakan kami tidak membuat kelelahan semakin malam semakin memberikan  ketertarikan. Sekarang  peristiwa itu hanya kenangan  yang tidak mungkin dilupakan.

Sudah sampai diujung jalan menuju daerah jalan tol kami berhenti karena temanku Mas Akbar kebelet mencari  toilet dahulu, sekalian istirahat  dan mencari sedikit oleh - oleh dan cemilan untuk dijalan. Kue moci  dari Sukabumi tidak lepas dari incaran, merupakan has oleh-oleh Sukabumi. kalu tadi di Pelabuhan Ratu kami juga tidak lupa  membeli bakso ikan laut, asli Pelabuhan Ratu. Semua dirasa sudah selesai kami naik lagi ke mobil dan meluncur ke ibu kota pulang.

Setelah beberapa jam kami sampai di Ibu Kota kembali. Ketika pulang mas Akbar disambut istrinya, begitu bahagia. Isrinya mencium tangan mas Akbar aku lihat dari kaca sepion mobil. Sedangkan aku tidak akan ada yang menyambut. Tidak apalah karena inilah perjalan hidupku.A ku yakin semua orang sudah memiliki takdirnya masing - masing. Aku tidak bisa menjadi orang lain dan begitu juga orang lain tiddak akan menjadi aku.

Begitu  lelah setelah  melakukan  perjalan dari  Pelabuhan Ratu sampai ke ibu kota. Aku tak memikirkan apapun langsung rebahan di sopa ,setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

Bangun bangun  tengah malam badanku teras pegal - pegal sangat cape yang lumayan menguras tenaga. Aku jadi lapar dan aku lihat kedapur mendekati lemari es ada sedikit makanan sisa kemarin. Inilah hidup sendiri bebas tanpa beban padahal begitu banyak beban masa lalu.Tapi kalau inget makanan pasti lapar aku  membuat pesanan makanan dan aku tunggu di rumah. Enaknya hidup diibu kota adalah ketika punya duit semua serba gesit.Tinggal pinjit hp lalu tunggu di rumah walau sudah malam. Karena  restoran memanjakan  konsumen dua pluh empat jam.

Setelah datang ke ibu kota lagi,  bayangan Mey dan Ana datang kembali seakan menyabutku. Ketika di Pelabuhan Ratu bayangan mereka tidak ada, mungkin aku terlalu pokus dengan kegiatan worksop. Namun setelah di ibu kota mereka beruda seakan bergelantungan di pelupik mata. Karena besok adalah hari libur aku akan mencari Ana. Karena aku khawatir terjadi apa apa terhadap dia tapi jangan sampai orang curiga. Pesona Pelabuhan Ratu hilang setelah sampai di ibukota tergantikan dengan bayangan  dua wanita Mey dan Ana.

Entah sampai kapan aku akan begini terhantui  dengan bayangan yang tidak pasti. Hatiku bertanya selalu ada apa dengan Mey dan Ana? kok mereka selalu mengahantui aku. Bukankah Mey bukan siapa siapa aku lagi. Mungkin dia sudah menikah lagi dan behagia bersama pria lain. Begitu juga dengan Ana kenapa aku harus rindu dan bahagia kepadanya,bukah dia itu hanya seorang anak penjual asongan yang tidak ada hubungan apapaun dengan aku. Atau aku sedang stress dengan pekerjaanku, padahal pekerjaanku biasa - biasa saja seperti dahulu. Pekerjaanku hanya mengolah data paling ada perubahan sediktit.

Tapi kata pak ustaad  semua serahan kepada Allah yang maha kuasa dan  mohon petunjuknya. Apapapun masalahnya berdoalah kepada Allah.Tidak ada pilihan lagi selain menyerahkan kepada Allah semoga memberikan petunjuk. Aku selalu berdo`a di manapun berada semoga Mey baik - baik saja.

Remaja sekarang bilang  Mey adalah cinta pertamaku dan cinta matiku. Dia tidak akan tergantikan dengan siapapun,  walau Dini dan Darniati cantik selalu menggodaku namun Mey tidak akan terkalahkan. Bayangan Mey tidak terhapuskan dari otakku. Dia paling cantik selamannya. Entalah, aku yang benar atau sudah   mati rasa dengan mencintai mey atau aku benar sudah gila. Memang yang cantik banyak, yang menarik juga banyak, tapi Mey segala galanya buat aku. Dia lah pendorong hidupku sampai aku menjadi seorang sarjana pertama dari kampung kalau bukan karena motivasi dia tidaklah mungkin aku menjadi seorang sarjana computer. Betul sekali  pepatah arab  seorang lelaki  yang  hebat pasti ada dua  perempuan di belakangnya, tidak ibunya atau kekasihnya.

Sepuluh tahun menduda  bukan waktu yang  sebentar dengan  dikelilingi wanita cantik. Namun hatiku tak bergeming dengan godaan itu. Aku akan menikah setelah memastikan bertemu dengan Mey dahulu. Kalau dia  bersuami atau sudah mati mungkin pupuslah harapanku. Tapi kalau dia  masih sendiri apappun kondisnya aku akan kembali itu janjiku.

Aku sudah tidak memperdulikan lagi  ocehan orang lain, karena hidupku yang mengendalikan bukan oleh orang lain.ketika sedih baghaia pahit manis aku yang merasakan.aku jadi keras kepala tidak mau diatur  apalagi dalam soal rasa.

Aku seduh kopi di gelasku  dengan cemilan oleh- oleh dari sukabumi tadi ada moci, sale pisang dan juga besot itulah paporitku. Paling nanti aku kasih sebagian untuk tetanggaku. Kulihat jama dinding sudah jam dua belas, aku pergi ke kamar dan rebahan lagi. Ketika aku mau tiduran,pintu rumahku ada yang mengetuk –ngetuk.Aku bangkit dan curiga  jama segini  masa ada tamu. Aku jadi curiga dan takut jangan – janngan ada orang jahat. Aku  singkapkan sedikit  gorden jendela rumahku.  Ternyata ada orang yang berseragam tapi bukan polisi dan tentara ternyata,petugas  restaurant.Aku lupa tadi aku pesan makanan …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...