3. Curhat
Perusahaankau libur tiga hari membuat bahagia semua
karyawan di sana. Teman - teman banyak yang ngajak untuk liburan, ada
perorangan ada juga yang mengajak keluarganya. Kebanyakan liburannya ke Alam
bebas supaya bisa menghirup udara segar
katanya seperti puncak ada juga yang ke Geopark
Ciletuh Sukabumi. Sedangkan aku sudah janji ke Pak Somad untuk membantunya di
masjid itu, karena ada acara besar di
masjid. Kalau sudah janji kepada seseorang
kan kita tidak enak kalau kita
tidak menepatinya. Bukankah kita tahu salah satu ciri orang munafik
adalah ketika kita berjanji tidak
menepatinya. Aku berusaha menepati janji karena takut menjadi salah satu orang munafik.
Pagi sekali aku
berangkat ke masjid, ternyata pak Somad dan
bapak - bapak panitia acara yang laianya sudah sibuk.
“Bapak
kira Deni tidak akan datang.”
“Pasti datang
dong pak sudah janji.”
“O iya Den, Petugas
yang biasa MC sedang sakit jadi beliau tidak bisa hadir, Bagaiman kalau kamu
saja?”
“Kalau bapak
percaya InsyaAllah aku siap”
“Ini susunan
acaranya.”
“Jam berapa
acaranya di mulai Pak?”
“Sekitar jam
depalan.”
“Ya siap.”
Hari itu adalah
suatu kehormatan bagiku karena aku bisa memandu acara di masjid itu. Bisa bertatap muka dengan para ustad dan juga paramustami
dari berbagai daerah yang jumlahnya ratusan, menurutku sangat luarbiasa. Setelah
acara selesai, dilakukan ramah tamah
di tempat yang telah disediakan panitia. Ketika menjadi seorang pembawa acara atau mc kadang
bertanya kepada diriku aku bisa
tidak ga
menjadi seorang mc di depan orang
ratusan menghadai para ustad. Tapi dengan kepercayaan diri aku yakin bisa hanya
sebatas pembawa acara. Alhamdulilah puji syukur kepada Tuhan yang Maha
Rohman aku bisa menyelesaikan tugas itu walau
dengan dadakan. Memang aku pernah menjadi pembawa acara
waktu sekolah dan kuliah dahulu. Tidak ada yang paling bahagia kecuali
kalau pekerjaan sudah selesai dan
berjalan lancrr.
Sehabis
acara kamipun berkumpul dengan
para ustad sedangkan para panitia yang lain sibuk membereskan peralatan bekas acara tadi. Acara selesai sampai
duhur diakhiri dengan sholat duhur berjamaah. Niat dari
rumah akan bantu Pak Somad saja karena sudah janji eh malah sekarang hanya
ngobrol dengan para ustad dan tamu undangan yang lainya. Setelah para tamu
undangan pada pulang, aku pun ke luar ruangan DKM dan menuju halaman masjid. Pak
somad sekarang sudah beres tinggal istrirahat dengan panitia yang
lainya.
Aku duduk di teras masjid sendirian sambil melamun, bayangan
anak itu datang kembali. Waktu acara
tadi berlangsung dan begitu banyak orang
aku tidak kepikiran dengan anak itu. Sekarang setelah acara selesai bayangan anak itu datang kembali. Aku
bertanya pada diriku harus bagaimana dan apa yang harus aku lakukan. Kalau aku
rahasiakan dalam diriku sendiri rasanya
sudah tidak kuat lagi.
“Jangan
melamun.”
“Eh pak ustad
.”
“Ayo ikut ke
ruanganku”
“Iya pak “
Aku bangkit dan
ikut pak ustad ke ruangannnya yang ada dekat ruang perpustakaan masjid. Masjid
ini sangat lengkap di mana masjid ada
ruang perpustakaaan, konsultasi, ruang dkm, ruang aula masjid dan juga
tempat yang lainya. Masjid ini ketua DKMnya adalah Pak Samsul Aripin beliau
seorang pengusaha yang hebat namun beliau sangat peduli dengan kemakmuran masjid. Dari beliau juga saya
belajar kehidupan ini walau beliau sudah dianggap sudah sukses tapi beliau tidak tinggi hati.
Masjid ini menampung ratusan jamaah dan juga berbagai kegiatan social dan keagamaan. Masjid
ini juga memiliki ustad muda yang bernama Ustad Taufikurohman beliau
lulusan Al-Azhar Mesir jurusan Tafsir Hadist dan belau juga llulusan Maroko Doktor
Ilmu Hadist. Walaupun beliau lulusan
luar negeri dan hebat dalam bidang ilmu
agama tapi beliau masih bisa bergaul
denangn masyarakat lainya. Selain ilmu ilmu
hadist yang beliau kuasai beliu juga
hebat dalam murotal dan memiliki suara
yang begitu indah. Ketika beliau yang
menjadi imam sholat tidak sedikit makmum merasa
adem dan merasa nyaman sekali
dengan suara yang sangat indah dari sang imam seakan ada di dunia luar. Selain
beliau menjadi imam di masjid ini beliau juga mengajar di Universitas Islam Negeri
di kota besar ini. Aku juga sering
bertemu dengan beliau, ketika
memberikan tausyiah di masjid tersebut. Syukur kepada Tuhan Yang
Maha Rohman aku bisa ngobrol bareng dengan ustad Taufik ini. Sampailah aku ke
ruangannya yang sangat bersih dan rapi
dengan kitab -kitab tebal di belakangnya.
“Dari tadi mas
ini kelihatan melamun saja?
“Betul ustadz,
aku ini sekarang hati sering gelisah dan
merasa bersalah tanpa alasan. “
“Sudah berpa
lama kerja atau merautau di kota ini ?”
“Hampir sepuluh
tahun”
“Berapa kali
mudik? “
“Tidak pernah
ustadz”
“Kenapa ?”
“Aku tidak
memiliki saudara dan orang tuaku sudah meninggal ustadz”
“Cobalah jiarah
ke kuburuan orang tua mas deni!”.
“Maaf ustad,
bukanya kita mendoakan dari jauh juga sampai pahalanya kepadda orang tuakita.”
“Betul, tapi
rawatlah makamnya dan jiarihi ke sana!”
“Tapi, aku malas
ustadz aku pulang kampung .”
“Kenapa malas ,
orang lain kalau mudik senang. Di kampung itu ada saudara kita, sahabat kita
jangan sampai kita dianggap memutuskan silaturahmi, karena itu dosa besar.”
“Iya ustad, Insyaallah
aku akan jiarah ke makam orang tua dan saudara di kampung.”
“Saya tidak
tahu masalah apa yang menimpa kamu di masa lalu, tapi mas jangan dendam supaya hati menjadi lembut.”
“Benar
sekali ustadz aku memiliki masalah dan
seolah aku ingin mengubur kenangan masa lalu itu dengan tidak kembali ke kampung itu lagi walau merasa berat menahan
rindu ke kampung halaman itu.”
“Dendam itulah
sumber dari resah dan gelisah mas, sekarang kita belajar memaafkan agar kita
hidup lebih ringan dan nyaman.”
“Iya ustad, aku
akan mengikuti nasihat Ustadz.”
“Mohon maaf
mas, saya buka mengajari mas tapi hanya
sekedar mengingatkan saja.”
“Terimakasih
ustadz,sudah menginagatkanku”
“Mungpung masih
libur panjang sempatkan mas walau hanya
sehari.”
“Insyaallah Ustad
besok aku kan ke sana.”
“Asal mas
tahu sumber dari segala permasalahan
hidup ini adalah sumbernya dari hati.”
Aku hanya menganggukan kepala kepada ustadz. Mendengar
ucapannya yang lembut seakan menyerap kedalam jantungku dan menyebar ke seluruh tubuhku. Mungkin ini
yang membuat resah dan gelisahku karena
aku dendam dengan orang –orang yang telah menyakitiku dahulu. Apalagi masih
ingat orang yang menghina aku itu
didepan mataku sendiri. Kalau aku punya kesempatan ingin rasanya membalaskan
rasa sakit hatiku kepada mereka, tapi kata ustadz tadi kita tidak diajarkan untuk balas dendam. Setelah
aku beres mengobrol dengan ustadz aku
permisi mohon pamit, begitu juga kepada Pak Somad.
Mungpung masih
libur aku sempatkan diri untuk pulang kampung
untuk berjiarah ke makam orang tuaku. Yang paling aku segan pulang kampung kalau aku harus bertemu dengan wajah orang
–orang yang menyakitiku dan yang paling berat kalau aku bertemu dengan mantan
istriku Meli Sapriani.
Untuk kebaikan
jangan banyak mikir yang penting aku harus pulang kampung. Silaturahmi
dengan saudaraaku dan sahabatku juga kepada guru-guruku. Jangan sampai
silaturahmi aku putus dengan saudara dan guruku.
Sesampainya dirumah
aku langsung berkemas.Sore itu
aku langsung meluncur ke kampung halamanku.

Komentar
Posting Komentar