5. Di Ujung Kesedihan
Di dalam kamar
rumah Pak Rt mataku tidak terpejam walau di sini sangat nyaman tidak usah memakai kipas atau ac karena sudah
dingin. Suanana di luar tidak bising dengan kendaraan hanya suara kodok yang terdengar sesekali suara
burung hantu dari kejauhan dan gonggongan anjing. Aku hanya bisa menatap langit
– langit kamar itu yang terbuat dari
anyaman bambu yang rapih, orang menyebutnya bilik mata walik. Segala kenangan masa
lalu datang silih berganti membuat mataku tidak terpejam sama sekali.
Teringat ketika
aku
telah pergi dari tragedi malam itu. Aku di bawa Alek ke kota itu, katanya ada lowongan di tempat
kerjanya. Alek kuanggap sebagai malaikat
penolongku karena telah membawa hidupku dari
lembah musibah. Sungguh secercah harapan itu menyala di dalam hatiku bersandar kepada sahabtku
Alek. Aku bisa bernafas lega jauh dari kampung
halamanku.
Pagi buta kami naik
bis menuju ibu kota dengan temanku itu, karena aku kecapaian aku tertidur di bis. Aku
tidak tahu seberapa lama perjalanan tahu – tahu sudah dibangunkan Alek katanya sudah sampai.
Karena belum sarapan kami mencari tempat
makan di pinggir jalan. Aku pesan nasi
dan lauk pauknya dengan secangkir teh manis, Aku makan dengan lahap walau masalah menerpaku, karena perutku tidak tahan seharian belum
makan,lapar sekali perutku. Temanku Alek,
dia makan dengan lahapnya.
“Awas
banyak copet hati - hati dengan tas mu!”
“Ya”aku jawab
tanpa menoleh Alek
“O iya aku cari
wc dulu ya.” Alek mengatakan begitu sambil berdiri menuju suatu tempat yang entah ke mana.
Aku santai saja melahap makanan itu
sambil memandang kesibukan ibu
kota dengan berbagai macam pekerjaan
yang dijalankan oleh penduduknya. Lama sekali
aku menunggu temanku Alek sedangkan
makananku habis aku jadi
kawatir kalau terjadi apa apa. Aku
bangkit dari bangku tempat dudukku. Aku membayar dahulu makanan yang kami makan tadi. Aku sangat kaget
sekali di dalam tasku, Uang tinggal lima puluh ribu. Semua uangku aku simpan di
tas ini dan tidak pernah ada orang yang
tahu kecuali Alek. Waktu di atas bis juga aku peluk tas itu dan duduk dekat
jendela. Apa mungkin Alek yang mengambil aku jadi buruk sangka, tapi tidak
mungkin dia sangat baik. Nanti kalau Alek sudah pulang dari WC akan aku tanyakan barangkali dia tahu tentang uangku itu. Pelayan itu
mendekatiku setelah dihitung semuanya hanya tiga puluh limaribu. Uangku habis hanya sisa lima belas ribu aja.
Hari semakin siang matahari semakin panas. Aku menunggu
di luar warung, namun Alek tidak muncul.
Lama Sekali aku menunggu, entah berapa jam aku menunggu dan ternyata tidak kembali,
aku mencari ke sana kemari dan ternyata tidak aku menemukan juga. Entah ke mana
dan di mana Alek temanku itu. Dia
pergi begitu saja setelah aku beri
ongkos dan makan dia pergi meninggalkan aku.
sangat menyakitkan tega banget seorang teman meninggalkan aku. Sampai duhur belum juga
datang dan aku mencari kesana kemaripun
dia tidak ditemukan. Akhirnya aku
mencari masjid untuk sholat duhur. Aku baru sadar aku ditipu sahabatku
sendiri. Aku ditinggalkan begitu saja
dan uangpun dia bawa pergi. Asalnya aku
berharap sangat kepada sahabatku membawa aku dari lembah musibah agar hidupku berubah. Ternyata terlalu berharap kepada manusia berujung ke cewa. Di sini baru aku tahu arti
kepedihan hidup keluar dair mulut harimau
sekarang aku masuk mulu buaya, di
tipu mentah mentah oleh Alek tamnku
sendiri. Mungkin aku di buang di kota
ini supaya aku tidak kembali lagi. Aku
tidak menaruh curiga sedikitkpun kepada Alek. Dia begitu dekat denganku dan
juga dia sering bersamaku dari kecil teman sekampungku.
Dalam keputus
asaanku, aku langkahkan kakiku mencari
sumber suara adzan yang aku dengar. Aku menemukan masjid yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku ambil
air wudhu dan sholat di masjid itu,
sampai asar aku masih di
sana seperti orang yang tidak memiliki tujuan. Dalam Setiap
sujud terakhir sholat duhur dan
ashar, aku berdoa semoga perjalananku seperti perjalanannya Nabi yusuf yang
dibuang oleh saudaranya sendiri.
Di masjid inilah aku
berdoa dengan penuh harapan yang sangat kepada Tuhan yang Maha Rohman, dan minta ampun kepada atas
segala dosa apa yang telah aku lakukan. Sehingga musibah bertubi tubi datang dengan
begitu menyakitkan. Meneteslah air mataku merasa lemah tiadak berdaya
dihadapan Tuhan yang maha Rohman, aku pasrahkan segala urusanku. Aku sudah
tidak anggup lagi berpikir hanya menyerahkan masalahku kepada Allah yang maha
kuasa.
Entah kenapa aku tidak mau pergi dari masjid
itu sampai malam aku di sana. Sambil
itikap dan merasakan pedihnya hati karena tersakiti dan ditipu, juga pemikiranku yang begitu mumet
dan kacau sekali. Tidak ada orang yang peduli kepadaku karena aku orang
asing yang tidak mungkin
menyapaku. Terpikir olehku untuk pulang lagi ke kampung halaman aku
tidak mau. Uang saja tida punya dan lagian di kampung sudah di punya siapa -
siapa dan apa-apa lagi.
Asalnya Alek
harapan satu-satunya ternyata dia menghianatiku. Aku tidak bisa menghubunginya
karena hp satu satunya dia bawa pergi juga. Jadi lengkap sudah penderitaanku aku tidak bisa melakukan apa - apa lagi.Sekarang baru ingat dengan pepatah
orang bijak jangan terlalu berharapa kepada manusia maka kau akan kecewa.
Mungkin karena dari siang sampai malam aku ada di
masjid terus sehingga aku aku ditanya oleh orang yang sudah tua
yang dari tadi sibuk di masjid, mungkin
dia seorang marbot. Orang itu seperti
sedang mengintrogasiku karena mungkin kecurigaanya karena seharian ada di masjid. Aku terus terang kepada pak tua itu dengan apa yang telah terjadi tadi. Mendengar cerita ku itu
dia mengangguk - anggukan kepalanya tanda
mengerti, lalu dia pergi meninggalkanku begitu saja. Tidak begitu lama
dia datang lagi dengan sebuah pelastik hitam dan sebotol minum air mineral di tangannya. Beliau memberiku makan dan minum kepadaku. Pak tua
itu memeprsilahkan aku untuk memakannya. Walau aku malu tapi karena lapar gimana lagi ya aku makan saja. Puji syukur
kepada Allah yang maha kuasa di dalam hatiku, ternyata Tuhan
tidak membiarkan aku. Tuhan yang
Maha Rohman telah mengirimkan
makanan dan minuman lewat marbot masjid itu. Setelah makan dan
minum aku ngobrol dengan pak tua tadi
dan beliau mengijinkan tidur di
ruang Dkm yang kosong untuk sementara waktu. Karena aku tidak memiliki tempat
tinggal dan pekerjaan, pak tua itu menyarankan aku harus membantu dia menjadi marbot masjid. Tentu saja aku mau
dan langsung menerimanya yang penting
aku bisa tidur dan makan sudah merupakan
suatu anugrah yang tak terhingga waktu itu. Daripada aku terlunta –lunta
dijalanan aku harus menjadi tunawisma di emperan lebih baik membantu pak tua menjadi marbot.
Sambil menanti
ke ajaaiban dari Allah yang maha
kuasa agar mem berikan suatu perubahan
kepadaku. Agar aku diberikan kehidupan yang lebih baik lagi dan diberikan rijki yang halal yang baik dan
banyak. Aku juga dengan kehidupan menjadi marbot aku bersyukur, merasa sudah nyaman karena
soal makan dan tidur ada jaminan
dari Dkm masjid.
Aku teringat
ketika belajar mengaji ke seorang ustad dahulu di
kampung beliau bercerita dalam sebuah kitab, ada cerita di mana ada
seorang suami yang miskin dan tidak bekerja
setiap mencari pekerjaan tidak ada lowongan dan selalu dia pulang
ke masjid dan membersihkan masjid.
Setiap hari diulang begitu dan begitu sehingga suatu hari ada orang datang yang memberikan upah kepada istrinya uang emas senampan katanya upah suaminya. Cerita itu masih terngiang
ditelingaku dan menjadi motivasiku untuk
maju. Karena aku yakin tidak ada yang mustahil untuk Tuhan, kalau tuhan sudah berkehendak
pasti akan terjadi.
Aku sendiri
tidur di ruang Dkm sendirian, tidak ada yang menemani. Air mataku selalu meleleh bila teringat
dengan tragdi itu, Apalagi bayangan
Meli suka datang dalam setiap
mimpiku. Mungkin Mey aku bukan lelaki
yang tepat sehingga walau kita sama -
sama saling mencintai,Namun takdir tak
berpihak kepada kita. Kita harus berpisah denga cara menyakitkan. Akulah yang
salah karena tidak memiliki harta dan karena aku belum bisa menemukan kehidupan ku. Dan aku tidak bisa membahagiakan dirimu Mey
biarlah mungkin orang lain yang
akan membagahiakan dirimu. Walau aku tak
rela kau jadi miliki orang lain tapi sekarang aku pasrah mau apalagi kalau sudah begini.
Ketika sholat Jum`at begitu banyak pengunjung dari luar
daerah, sehinggga pengurus Dkm suka berkumpul. Aku pun sibuk menyiapkan peralatan sholat karpet, mengepel lantai,membersihkan
tempat wudhu dan wc.
Para pengurus Dkm
menyapa aku dan suka mengajak aku bergabung
dengan mereka tetapi aku sangat segan dan sedikit minder, karena aku
tahu aku ini siapa. Pengurus DKM itu
rata-rata pejabat semua. Padahal kita tahu
manusia bukan diukur dari karena jabatan dan hartannya di hadapan Tuhan
yang diukur adalah ketakwaannya. Manusialah
yang mengkotak-kotakannya.
Aku dipanggil
Pak Tua ke ruang secretariat Dkm dan menghadap ketua Dkm pak
samsul. Waduh pikirku ada masalah apa
lagi sehingga aku sampai dipanggil ketua Dkm. Ah aku pasrah saja yang penting
tidak melakukan kesalahan dan merugikan orang lain. Setelah aku mengucapkan
salam saya bertanya kepada beliau
bahwa aku dipanggil menghadap
kepadanya. Aku ngobrol dengan beliau mulai dari mana asal kelahiranku aku
jawab sesuai kenyataan saja.
Setelah ngobrol
dengan beliau kesana kemari kisah hidup
aku dan dia. Ditempat kerja beliau sedang membutuhkan seorang Ob. Beliau memberikan kesempatan kepadaku kalau mau
kerja bersamanya, nanti setelah beres di masjid aku harus datang ke rumahnya.
Setelah beres
dari masjid aku tidak langsung ke
rumah Pak Samsul Aripin.Tapi
bicarakan dahulu kepada Pak Tua
tentang tawaran Pak Samsul tadi. Ternyata
mendengar tawaran seperti itu beliau
turut bahagia dan mendorongku, katanya jangan menyianyiakan kesempatan karena masih muda. Kalau masalah
marbot beliau dengan yang lain masih
sanggup.Tapi jangan melupakan masjid kata Pak Tua.
Aku cari rumah
Pak Samsul dikira rumah biasa ternyata rumahnya
luas dan megah banget.
Beliu adalah seorang direktur perusahan, rumahnya berpagar tembok tinggi dan gerbangnya sangaat megah sekali
dan ada memiliki beberpa Satpam.
“Selamat siang
pak.”kataku sambil sedikit membungkukan badan kepada Bapak - bapak Satpam di
situ.
“Siang Mas,
bisa saya bantu.” kata satpam di situ
sambil memandang ke arahku.
“ Apa betul ini rumahnya Bapak Samsul
Aripin.”
“Betul, ada pa?”
satpam itu seakan bernada sinis setelah
aku menayakan tuanya karena
penampilanku tidak meyakinkan, sangat
sederhana sekali mau bertemu dengan seorang
yang dianggap mereka adalah seorang yang sangat luar biasa karena beliau adalah direktur perusahaan yang sangat
kaya.
“Mau
bertemu dengan beliau pak.”
“Tidak bisa,
kecuali harus sudah ada janji!”Katanya seakan dia tidak
menghiraukan aku.
Eh
pertolongan datang juga kepadaku ketika
aku sedang ngobrol dengan satpam itu
tiba tiba dari ruang teras rumahnya yang megah dengan tiang tiangnya
menjulang seperti tiang istana di negara Romawi kuno yang pernah lihat di buku sejarah dulu. Pak Samsul Aripin
ke luar dan memanggilku. Aku langsung masuk setelah
dibukakan pintu oleh Satpam. Sekarang Pak Satpam itu sorot mata dan mukanya beda dengan yang pertama jumpa, cerah dan
memberikan seyum. Mungkin mereka menganggap bahwa aku orang penting sehingga
langsung bisa berbicara dan
bertemu dengan tuanya.
Ternyata pak samsul berbeda dengan
bawahanya dia begitu ramah dan memeperlakukan aku saja seperti orang
penting saja. Aku disuruh masuk dan di
jamu segala. Atau mungkin tahu aku
manusia sebatang kara yang perlu belas
kasihan orang.
Aku sangat
segan karena tidak mungkin banyak bicara dengan beliau yang sangat
berwibawa dan dia meminta maaf tadi waktu di masjid bahwa posisi Ob sudah ada yang mengisi.
“Maaf mas ternyata posisi Ob sudah ada yang
ngisi.”Katanya dengan ramah
“Tidak apa- apa
pak .”Jawabku sambil menganggukan kepala.
“Ada juga
posisi sebagai stap namun harus bisa komputer dengan ijazah minimal dari d3 komputer.”Kata Pak Samsul menyesalkan karena posisi
di kantornya untuk Ob sudah tidak ada karena tadi sekretarisnya
memberitahukanya. Hanya stap yang ada
itupun harus bisa mengoperasikan komputrer dan minimal
lulusan diploma 3. Pak
samsul mungkin menduga
aku bukan sarjana komputer paling
lulusan dari sekolah dasar atau SMP
karena hanya jadi marbot di masjid.
“O iya pak, kalau masalah Komputer saya
hobi sekali.” Aku mencoba melobi beliau.
“Tapi bukan
masalah hobi namun harus menguasai,dan lulusannya harus sesuai juga.”
“Kalau masalah ijazah Pak Insyaallah
ada.”
“Memang kamu
lulusan apa?”
“Saya sarjana Komputer
pak.”
“Bisa saya
lihat ijazah nya.”
”Bisa pak,ada
di masjid.”
“Kalau
begitu sekarang saya tunggu
bawa ijazahnya.”
“Siap
Bapak aku ambilkan dahulu ijazah nya.” Mendegaar jawaban dari pak samsul seperti itu
seakan langit kebahagiaan yang menimpaku,
membuka harapan baru dalam kehidupanku. Tidak
berpikir lama dan tidak menyianyiakan
waktu aku setengah berlari kempbali ke masjid mengambil ijazah. Seakan
akan semua orang yag ada di jalanku aku tak melihatnya yang aku lihat adalah
ijazah ku. Aku ambil tas hitam yang aku gantungkan di paku masjid di ruang kamarku. Kuraih
ijazah ku dan langsung aku bawa lagi ke rumah Pak Samsul setelah melihat-
lihat ijazah ku dia menelepon seseorang. Setelah beres menelopn orang beliau
menoleh kepadaku sambil mengatakan
“Besok kamu
bawa ijazah ini potokopianya dan temui Dini Sekretarisku, mulai besok
kamu bisa bekerja di kantor saya ya!”
“Terimaksih banyak
bapak sudah menerimaku di perusahaan Bapak.” Air mataku hampir pecah namun aku
tahan karena malu di depan
Pak Samsul. Aku mohon diri pamit kepada Pak Samsul untuk kembali ke
masjid. Sekarang dunia terasa begitu luas langit terasa cerah dan kepalapun terasa ringan. Aku pulang dengan membawa hati yang
sagat riang.
“Sudah beres
mas?”Tanya pak satpam
“Sudah pak
..terimakasih ya.”
“Sama sama.”
Satpam melongo melihat kelakuan ku yag bulak balik
ke rumah Pak Samsul. Mungkin hati Pak
Satpam bertanya kenapa tuh orang riang
banget sekarang.
Eh tiba
tiba Pak Samsul memanggilku aku kaget bukan kepalang. Takut
ada yang salah atau pekerjaanku di cancel.
“ini punya kamu
ketingglan.”Kata pak Samsul sambil memberikan sebuah kertas putih. Ketika aku
dekati ternyata poto Meli jatuh tadi dari
map ku. Malu juga ada poto
perempuan jatuh, tadi cepat cepat ngambil ijazahnya. Pak Samsul pun
mesem dan langsung masuk lagi ke dalam rumahnya setelah memberikan pas poto
Meli Sapriani itu.
Ada ada saja…..

Komentar
Posting Komentar