Langsung ke konten utama

Tebing Di Ujung Gang Bagian Enam

 

6.hilang

Tidak lama aku di kampung halaman hanya berjiarah ke makam orang tuaku dan saudaraku juga kawan dekat. Aku pulang lagi ke kota ini karena tidak kuat lama - lama di sana. Aku tidak kuat karena seluruh kenangan pahit di sana terbuka. Seakan membuka luka lama.

Sekembalinya aku dari kampungku, sekarang bayangan Ana semakin menggoda aku. Semakin penasaran dengan Ana seorang anak penjual asongan kue. Bila  aku ada berada di dekatnya, ada perasaan damai dan sejuk dalam hatiku. Kegelisahan yang aku rasakan  seakan hilang semua ditelan kenyamanan bersamanya, seperti berjalan  di gurun sahara  lalu menemukan oase yang  berdanau jernih.

Setelah sekian hari aku tidak bertemu ada perasaan rindu yang sangat mengganggu hati dan pikiranku. Untuk menghilangkan  rasa rindu dan  kepenasaranku aku datang ke warung tempat makanku setiap hari kalau aku kerja. Namun sayang anak yang aku rindukan kedatangannya  tidak pernah muncul di hadapanku. Panasnya ibu kota  sepanas hatiku dalam menahan rindu  ingin bertemu dengan anak itu. Aku bingung  dengan  perasaanku sendiri kenapa harus rindu dengan anak penjual asongan. Atau mungkin  aku sudah linglung dan bingung  seperti seorang  pecinta yang ditinggalkan kekasihnya, dari menunggu  tak peduli waktu  dan hanya ingin bertemu untuk melepas rindu.

Aku langkahkan kakiku menuju gang  masjid yang tidak jauh tempat makanku. Aku bertanya  ke mang Somad yang selalu jadi juru parkir barangkali dia melihatnya atau tahu dengan anak penjual asongan dengan ciri - ciri yang aku sebutkan kepadanya. Pak somadpun diam karena tidak tahu  diapun sama tidak melihatnya, mendengar seperti itu aku  jadi gelisah dan ingin mencari dia. Tapi entah ke mana dan di mana karena dia tidak mau memberikan alamat dan memberitahukan siapa orang tuanya, jawabannya malu kalau cerita keluarganya tapi aku tidak memaksanya karena bisa ngobrol saja sudah bersyukur. Sudah beberapa hari aku selalu selalu menunggu di gang masjid itu namun tidak muncul- muncul juga. Aku semakin  bingung seperti orang linglung, ke setiap orang aku bertanya dengan anak itu. Namun tak seorangpun yang tahu di mana dia sekarang.

Dalam doaku selalu memohon agar aku bisa bertemu lagi dengan Anak itu,siapa dia ? Agar hatiku tenang tapi bukannya bertemu tapi malah dia menghilang, yang kutakutkan dia sakit atau diculik orang dijadikan pengemis setelah dibuat cacat dahulu. Oh tidak pikirku semoga anak itu baik baik saja dan semoga Allah membuka tabir misteri ini. Karena kalau menatapnya seperti ada getaran menembus jiwa dan detak jantungku menjadi kencang. Seperti ada teka-teki besar dalam anak itu.

“Jangan melamun Den!”Suara itu besar sekali sambil ada yang menepuk pundakku.

“Ah tidak melamun, sedang mengecek  data  saja pak karena laporan data yang kemarin sudah bereskan pak “.Aku tereranjat dan malu karena yang menepukku adalah manajerku.

“Bagus Den ..o iya file yang kemarin masih ada ga sofcopynya “

“Masih ada,Pak”langsung aku buka file di layar laptop.

“Japri aja ya “Kata bosku itu

‘’Ok.Siap pak”.

Julkarnaen  adalah manajerku dia itu orangnya baik, walaupun dia orang hebat tapi menganggap karyawanya seperti saudara, tidak seperti bawahan dan atasan makanya kami betah banget dengan suasana kantor ini. Namanya Pak Jul Karnaen tapi semua orang suka menyebut potongan namanya saja Pak Jul. Orangnya tinggi besar berambut ikal, memilki hidung mancung berkulit putih  dan tangannya penuh bulu. Kata orang dia itu belasteran. Ibunya orang Sunda, Bandung sedangkan bapaknya dari Turki. Entah bagaimana ceritanya mereka bisa bertemu begitu aku  tidak tahu.

Dua tahun yang lalu  kalau waktu istirahat aku suka berdua dengan seorang teman Mas Parto namun sayang dia harus pindah tugas ke luar daerah, karena cabang perusahaan memerlukan tenaga operator yang handal seperti dia. Di kantor kebanyakan perempuan jadi jarang kumpul hanya  sesekali saja. Ada juga laki- laki umurnya di bawahku, semua jadi merasa  canggung. Kalau kumpul dengan mereka menganggap aku seperti bos, hanya karena aku denakt dengan Pak Samsul Aripin pemilik perusahaan.

Tak terasa  hampir   delapan tahun  aku kerja di kantor ini. Aku  sangat bahagia  karena  merasa ada kehidupan  di sini, sebelumnya aku  bisa dibilang hanya seorang tunawisma yang ditolong Pak Tua seorang marbot. Akupun sempat menjadi  marbot  kurang lebih dua tahun. Di masjid itulah cikal bakal kehidupan baruku mulai tumbuh kembali.

Walau aku ingin melupakan peristiwa kedatanganku ke ibukota ini, tetap tidak bisa. Walau sudah sepuluh tahun yang lalu tapi terasa baru kemarin. Tak disangka dan di duga sebelumnya, Alek tega meninggalkan aku sendiri. Seolah – olah aku dibuangnya setelah uang dan HPku dia bawa pergi. Sekarang aku tidak ada perasaan  dendam lagi  karena  aku sadari dibalik musibah  ada hikmah, dibalik  cobaan ada pelajaran tergantung bagaimana menyikapinya.

Aku sangat bersyukur   dengan pertolongan Tuhan aku bisa  hidup  kembali  setelah bertemu dengan marbot masjid yang sangat baik hati sampai aku  diterima di perusahaan ini.  Walau hanya sebatas karyawan  tapi  aku sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan  kepadaku.

Romantika   kehidupan aku jalani  mulai dari  sekolah dahulu waktu di kampung dengan berjalan kaki selama beberapa jam karena harus menempuh jarak lima kilometer lebih dari kampungku. Sampai menginjak dewasa  dengan  dekat seorang perempuan  namun  akhirnya harus berujung dengan perceraian yang tidak diinginkan.

Tidak  sepantasnya dendam dengan masa lalu, tapi jadikan  pelajaran untuk  lebih baik lagi. Balas dendam yang terbaik kepada orang yang telah menghina  dan menyakiti aku  adalah aku harus sukses. Kadang tepikir aku dahulu ingin kembali ke kampung halaman  dan hidup  bersama orang yang aku cintai tapi  hidup tidak semudah itu kawan, semua harus memerlukan pengorbanan. Tidak ada  yang geratis  pasti  ada ongkos yang harus  dikeluarkan ketika kita berbuat sesuatu. Apalagi tinggal di ibu kota seperti ini. Kita terlalu lemah diinjak orang terlalu keras dipatahkan orang. .

Jam istirahat aku menyempatkan diri   ke masjid dan melihat lihat barangkali ada Ana di sana. Tapi tidak  ada  Ana di sana,  anak yang sebaya  denganya banyak yang ikut orang tuanya. Ke mana lagi harus ku cari dan kepada siapa aku bertanya. Aku putuskan harus kembali ke tempat kerjaanku. Waktu terus berputar  tak terasa hari sudah hampir sore dan  semua karyawan yang ada di sana  sudah mulai berkemas akan segera pulang. Waktu pulang sudah tiba  aku pun dengan perasaan lemas  aku bangun dari tempat dudukku kumatikan semua komputerku dan  aku  masukan HP ke dalam tas dan kuambil kunci motorku dan aku  pulang.

Begitu aku  lagkahkan kaki dari tempat kerjaku tiba- tiba  ada  yang memanggilku

“Mas Deni tunggu sebentar “.Ternyata bu Dini sekretaris perusahaan.

“Iya ada apa,Bu? “Tanyaku.

“Ini ada surat  pengantar besok Mas dengan Mas Akbar  berangkat ke Pelabuhan Ratu!”

“Wisata ?”kataku setengah bergurau.

“Wisata,  bukan lah worksop di sana dua  hari tentang  perusahaan.Tadi aku lupa sedang ada tamu  maaf ya. Untuk akomodasi kamu  temui Pak Syarif.”Kata Bu Dini  sekeretaris perusahaan.

Dini ini sekretaris baru perusahaan  menggantikan sekretaris  sebelumnya yang sudah risigen karena ikut suaminya  pindah ke luar negeri. Dini seorang wanita professional dalam bidang sekretaris, dia masih single. Bukan tidak ada yang yang mendekatinya  namun  karyawan biasa mendekatinya  harus memiliki Pd tingkat dewa. Selain cerdas dia juga  seorang wanita yang begitu anggun, di mana dia memiliki tinggi badan dan kulit yang putih bersih karena  yakin biaya perawatan seorang sekretaris pasti sangat mahal. Perawatanya pasti beda dengan emak ku di kampung setiap hari yang kerjanya ke  sawah. Masa iya ke sawah harus berdandan seperti mau konser nanti bisa bisa diketawakan kodok sawah. Kalau Dini wajarlah  cantik juga, sudah cantik  dirawat dengan perawatan mahal. Tentu hasilnya  akan luar biasa. Lelaki rendahan seperti aku sangat minder dengan gajinya yang tiga kali lipat dari aku. Suatu keajaiban  bisa mendapatkan cinta seorang  wanita seperti dini ini. Walaupun ada peribahasa  sentuhlah hatinya maka diakan jadi milikmu selamanya. Namun  pola pikirku berubah setelah tragedy malam kelabu  ternyata  karena  aku tidak memiliki rupiah rumah tangga jadi pecah, cinta jadi terpisah, harapan jadi musnah. Resah dan gelisah tidak ada  yang menghiraukanya yang ada  hanya caci maki dan cemoohan menambah luka  yang lebih parah. Jadi aku apatis memandang semua wanita padahal semua orang mungkin tidak sama seperti itu.

“Ok tidak apa apa.”Jawabku sambil mengambil surat  darinya.

Aku harus bersiap - siap  berangkat ke Pelabuhanratu yang sekarang menjadi ibu kotanya kabupatern Sukabumi. Acaranya bisa mendadak begini ya dalam hati, tapi tidak apalah. Sebetulnya aku senang sekali mendengar kata Pelabuhanratu. Sebuah teluk yang ada di kabuten sukabumi selatan. Pantainya yang terkenal indah dengan panorama yang menyihir mata pengunjungnya dengan air laut  yang  masih biru. Bisa lupa diri kalau sudah main ombak di Pelabuhan Ratu ini. Kawasan Pelabuhan Ratu memiliki pantai yang berbeda- berbeda  ada Karang Hawu ,Citepus, Cipatuguran dan juga cibangban. Palabuhan Ratu ini tidak heran  sering dikunjungi wisatawan  lokal dan intrnasional karena keindahan pantainya. Liburan  wajib bagi warga Sukabumi, Cianjur, juga  Bogor dan sekitarnya adalah Palabuan Ratu, maka jangan heran  kalau lebaran idul fitri macet total jalur ke Palabuhan Ratu. Ada dua jalur yang bisa  menuju Pelabuhan Ratu dari ibu kota, yang aku tahu  jalur Cikidang dan jalur Cibadak. Biasanya aku sering   melalui jalur Cibadak saja karena lebih nyaman  walau jauh  jarak tempuhnya, beda dengan jalaur Cikidang  banyak naik  turunnya.

Aku telepon mas Akbar  untuk memastikan  bahwa dia mau bareng atau tidak berangkat ke Pelabuhant Ratu nanti.

“Mas  besok ke Pelabuhan Ratu kan?”tanyaku kepada Akbar  lewat hp ku.

“Iya mas,katanya kita berdua saja.”jawab akbar di telphon.

“Kita bareng aja ya mas.”pinta kepada mas Akbar

“bagus itu kita bareng aja .”jawabnya riang

“Iya aku nanti ke rumah mas Akbar ya, aku jemput.”

Mas akbar  itu  teman sekantor tapi sudah senior  tapi dari segia usia dia masih mudaan dia. Dia relgius sekali  soalnya saya perhatikan dia tidak pernah meninggalkan sholat, juga selalu menjaga  dirinya dari yang pergaulan tidak baik. Dia  sudah memiliki dua anak, anaknya  kembar satu  laki - laki  dan satu lagi perempuan. 

Mas Akbar berasal  dari  Wonogiri, ikut pemannya ke Jakarta. Sebelum kerja di perusahaan sekarang ini, asalanya kerja sebagai pedagang kaki lima ikut  pamanya. Sekarang dia sudah mandiri tidak ikut pamanya lagi. Untuk persiapan balik kampung dia membuat rumah di kampung halamanay. Jadi suatu saat dia pensiun atau terjadi Phk dia sudah punya tempat untuk pulang di kampung. Katanya, namanya hidup merantau suatu saat pasti akan kembali. Pun begitu  kerja diperusahaan orang  pasti ada masanya pensiun atau dipecat juga di Phk. makanya kata Mas Akbar ketika kerja  di mana saja jangan terlena ingat untuk persiapan pulang.

Mas Akbar sering pulang kampung  apalagi waktu lebaran Idul Fitri itu adalah acara rutina wajib. Berbeda dengan  aku  sudah bertahun - tahun  tidak pulang kampung.Baru kemarin aku pulang itupun terpakasa karena hanya mengikuti nasehat ustadz. Padahal  mendengar  kampung halamanku  terasa mendidih  ubun - ubunku selalu ingat dengan wajah - wajah  yang membuat cintaku pisah dan musnah. Untuk apa aku pulang pikirku ayah dan ibuku sudah meninggal dunia  hanya doa yang aku selalu panjatkan  setiap malam. Lagian pulang kampung  hanya membuka luka lama  dan getirnya masih terasa walau sudah hampir sepuluh tahun lamanya peristiwa itu. Jadi sebisa mungkin aku harus  kuat jangan pulang kampung. Sebelum   sukses aku  pulang kampung hanya menjadikan aku barang cemohan dan hinaan. Aku tidak ingin di perlakukan seperti dahulu  lagi untuk yang  ke dua kalinya. Kalau pahlawan bilang tidak akan pulang sebelum  perang dimenangkan,Damkar bilang tidak akan pulang kalau api  belum dipadamkan. Pun begitu dengan aku tidak akan pulang sebelum aku memiliki harta menyamai tuan tanah dikampung ku. Betapa egoisnya aku selamanya tidak akan pulang.

 

Malam itu aku berkemas persiapan untuk dua hari di Pelabuhan Ratu Sukabumi. Aku tak perlu repot –repot berkemas karena besok aku bawa mobil sendiri. Pakaian tinggal masukin koper ke bagasi. Yang paling penting yang tidak boleh ketinggalan adalah Hp dan laptop.

Besok pagi cerah secerah wajaku  menatap langit ibu kota yang lama tak turun hujan. Aku masukan koperku ke bagasi dan  aku menuju ke  rumah  Mas Akbar yang tidak jauh dari  rumahku. Ternyata Mas Akbar sudah menunggu  di depan rumahnya. Tanpa banyak kata lagi setelah dia pamitan kepada istrinya kami  masuk mobil dan  berangkat menuju Pelabuha Ratu Sukabumi.

Mobilku melaju menuju Pelabuha Ratu setelah melewati berbagai  gunung jalan yang berliku. Pepohonan kanan dan kiri yang berdiri seperti barisan tentara  yang setia, menjaga kesejukan alam dari kegersangan. Dahulu sepanjang jalan adalah kebun karet sekarang tidak semuanya  kebun karet tapi ada yang ditanami sawit dan pohon jati. Udara pagi begitu sejuk  karena embun pagi baru turun  jatuh  ke dedaunan. Butiran embun pagi tersinar  matahari  laksana mutiara yang bersinar. Matahari mulai terlihat  mengusir kabut di pegunungan yang menghalangi pemnadangan. Aktifitas pagi  hari di jalan sangat ramai  dengan bebagai kendaran  kecil besar,  motor dan mobil  banyak sekali memadati jalan  raya.

Tak terasa lama diperjalanan  dengan musik  yang aku putar  di mobilku  music pop  yang dinyanyika oleh arif  penyanyi padang  yang paling polpuler  judul lagunya  adalah haruskah aku mati. Lagu - lagu galau yang sangat menyentuh jiwaku apalagi  waktu itu  aku masih galau juga. Sebenarnya aku tidak  pilih pilih music yang penting enak didengar itu yang aku putar. Aku suka dengan musik dangdut, apalagi Rhoma Irama si raja dangdut. Pop juga aku suka  baik dalam negeri  maupun luar negeri bahkan aku juga suka musik keroncong. Masih teringat  belajar lagu  bengawan solo waktu Smp dahulu. Kalau waktu di kampung musik itu seperti rebana, gendang penca, jaipong dan degungan. Akhirnya kami sampai di depan  sebuah hotel megah yang bertuliskan  Samudra Beash Hotel,yang terkenal dengan SBH. Di sinilah kami menginap sekaligus worksop .

Cerobng asap PLTU  Pelabuhan Ratu yang terlihat kecil dari kejauhan. Padahal kalau didekati  cerobong itu adah sangat tinggi seperti pohon palem raksasa. Pelabuhan Ratu sangat mengesankan   sebuah pantai indah, yang ada di kabupaten Sukabumi selatan.  Lautnya  yang menjorok ke darat karena Pelabuhan Ratu merupakan  teluk. Airnya yang hijau sakinng jernihnya.Deburan ombak yang menggoda pengunjung untuk mandi di sana.Pesona pelabuhan ratu yang indah  mampu menyedot wisatawan  untuk berlibur ke sana.Apalagi kalau lebaran iedul fitri.

Setelah chek in aku mendapatkan kamar ternyata kami sama berdua dengan Mas Kabar. Aku bawa koperku  dan masuk ke kamar karena kegiatan akan dilaksankan nanti setelah Duhur. Sekarang aku  bisa melihat pemandangan pesona pelabuhanratu  dari jendela kamarku  lantai tiga. Pantesan  turis  betah di Indonesia  mengahabiskan uang tabungan nya berlibur disisni. Karena tidak sia – sia, jauh - jauh datang dari negeri seberang  disuguhi  peandangan  alam  yang begitu menawan. Rasanya tak ingin pulang kalau  tidak ingat pkerjaan.

Indosnesia luarbiasa  alamnya yang indah dan kaya maka pantas  waktu Sekolah Dasar dahulu masih teringat dengan kata – kata guruku, Indonesia adalah jamrud katulistiwa, batu dan kayu jadi makanan menanam tongkat saja jadi makanan. Tinggal bersuyukur saja  dengan mengolah alam jangan serakah. Ketika manusia mengolah alam dengan serakah bukan datang berkah malah musibah   yang datang seperti airbah. Sebertulnya kehancuran di darat dan di lautan adalah ulah dari tangan mansuia itu senddiri.

Hamparan  lembah yang indah gunung tinggi menjulang lautan luas  dengan  berbagai macam ikan  untuk manusia semua tapi awas jangan serakah.

Dengan pesona alam Pelabuhan Ratu  semua resah gelisah dan perasan mumetku semua jadi hilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Bergizi Gratis Perdana di MI Cijulang

  Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cijulang menyambut dengan penuh suka cita program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pertama kali dilaksanakan di sekolah. Program ini disambut sangat gembira oleh para siswa, karena selain memberikan pengalaman baru, juga menambah semangat belajar mereka di sekolah. Sejak pagi, wajah anak-anak terlihat ceria menantikan momen istimewa ini. Ketika makanan bergizi dibagikan, mereka tampak begitu antusias dan menikmatinya dengan lahap. Menu yang disajikan pun sehat dan bervariasi, mulai dari nasi, lauk pauk berprotein, sayuran segar, hingga buah-buahan. Hal ini tentu menjadi langkah baik dalam mendukung pertumbuhan fisik maupun kecerdasan anak-anak. Kepala MI Cijulang menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah atas terselenggaranya program MBG ini. Menurut beliau, program ini tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan siswa, tetapi juga menjadi motivasi tambahan agar anak-anak lebih rajin belajar. Dengan tubuh yang sehat dan gizi ...

SOAL LATIHAN IPAS KELAS 5 SD/MI

  Belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) adalah cara menyenangkan untuk menambah wawasan. Untuk melatih pemahaman, silakan kerjakan soal-soal IPAS yang tersedia. Kegiatan ini tidak bersifat wajib, sehingga siapa pun bebas memilih untuk berpartisipasi. Soal IPAS diperuntukkan bagi masyarakat umum, tanpa batasan usia maupun latar belakang pendidikan. Menariknya, soal tersebut dapat dikerjakan di mana saja dan kapan saja sesuai kenyamanan masing-masing. Dengan begitu, belajar IPAS menjadi lebih fleksibel sekaligus bermanfaat. Semakin sering berlatih, semakin mudah memahami konsep-konsep penting dalam IPAS yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Unutk mengerjakan soal tersebut silahkan klik  kata yang di cetak  miring         :   Klik di sini soalan IPAS Kelas 5 MI /SD

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...