Langsung ke konten utama

Suluh (kayu bakar)

Jaman saya kecil dikampung kami tidak ada kompor gas .Kalau ibu - ibu mau masak mereka menggunakan Hawu(tungku pembakaran ) dengan bahan bakarnya suluh(kayu bakar).kalau musim kemarau kayu bakarnya kering tapi kalau musim hujan kayu bakarnya agak lembab sehingga agak lama kalau masak masak.Kalau yang kaya mereka pakai kompor minyak tanah karena kompor gas belum ada.

Bila hari libur atau hari minggu kami suka janjian dengan teman-teman.Hari Minggunya kami pergi ke kebun untuk ngambil ranting di kebun orang.Ada ranting pohon jengjeng,jengkol,mahoni,manei dan lain lain.Kami suka mengambil kayu bakar tersebut untuk orang tua kami.

Jadi hari libur waktu kecil kami disibukan dengan permainan anak –anak yang mengasikan.Waktu itu belum ada permainan modern seperti sekarang ini.Paling kami main gatrik ,benteng-bentengan .kalau bulan puasa kami main lori atau ayun ayunan.Itu permainan jaman kami waktu kecil yang mungkin buat anak sekarang seperti dongeng.

Ketika kami ngambil kayu bakar ramai –ramai ke kebun. kadang yang gesit mereka membawa kayu bakarnya banyak banget ,di ikat pakai tali pelepah pisang yang sudah tua.kadang kalau ada tetangga yang butuh kayu bakar itu kami jual juga.

Sekarang kayanya sudah tidak ada seperti ngambil kayu bakar lagi,karena ada kompor gas .Di kebunnya juga pohonya sudah jarang banyak yang ditebang .Anak sekarang sudah disibukan dengan permainan game modern dan televise, semua orang hampir punya televise.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...