Masa lalau yang tak pernah lupa,ku kenal dengan seorang wanita dia sangat cantik dan menarik sehingga hatikupun tertarik ,tapi malu rasanya aku mengungkapakan rasa itu .Kami saling kenal dan orang tua kami mengerti dengan sikap kami walau kami tak pernah ada ikatan janji.
Suatu malam yang pasti tanpa ada waktu berhari - hari aku ditanya tentang perasaan hati oleh ayahku sendiri malu rasanya untuk mengungkapkan itu semua.Akhirnya kujawab dengan ketulusan hati aku mencintainya karena dia cantik baik dan menarik.
Kami melakukan hitabah dimalam hari dengan disaksikan rembulan malam ada ibunya ayahnya dan uanya kami saling melakukan janji untuk saling mencintai dan menjaga kesucian diri karena belum syah sebagai suami istri hanya saja kami hitbah saja.
Betapa hati ku besar sebesar gunung semeru tak bisa kulukiskan kebahagian waktu itu .Aku rajin kuliah dan dia akan lulus sekolah ,setelah kami lulus semua kami nikah itulah rencana kami menjadi suami istri yang syah .
Hari berganti minggu ternyata dia berubah tak seindah waktu hitbah sikapnya sungguh berubah ternyata dia selingkuh dengan temannya,aku mencoba bersabar karena mungkin dia masih sekolah,kejaidan itu membuat kuceriga ada apa dengan dia sebenarnya kadang senyum yang indah itu hanya di rumah kalau di luar hanya kata yang tak mernah.
Semakin hari hatiku semakin gundah ada apa dengan dia ?ku sms kadang tak ada balasan,ikut kamping taka ada pamitan ,,bila kubertanya mau ke mana dia katakana jangan perhatian terlalu berlebihan semakin hari hati tak tahan dengan sikap yang dia berikan.
Ketika sangat perhatian dia anggap aku egois,walaupun aku bego dalam soal cinta atau asamara tapi naluri lelaki , ada yang tidak beresn dengan semua ini ternyata dia hanya sandiwara menerima cintaku karena takut dengan orang tuanya .
Sampai hubungan ku hancur dia mempelrihatkan karakter aslinya dia berani memarahi aku dihadapan orang tua ku waktu itu aku sedang sakit semakin sakit ketika dia mencaci maki saya dengan temannya.
Hitbah musnah hancur ke segala arah ditelan hati yang serakah,lebih baik terus terang menyakitkan dari sandiwara membuat merana.

Komentar
Posting Komentar