Langsung ke konten utama

Cekdam


Ketika saya masih kecil ,di kampungku ada sebuah danau bernama cekdam .Tempat kami bermain,mencari ikan atau udang bersama dengan teman-teman.Ternyata cekdam itu bukan danau tetapi bendungan yang dibuat oleh orang tua dahulu untuk pengairan.Saya tidak tahu kapan di buatnya karena saya belum lahir.

Di pinggir cekdam berjejer pohon dukuh yang besar dan rimbunya pohon bamboo.udara dingin dan airnya yang jernih sungguh sangat menntramkan hati membuat betah anak bermain.Kami bermain belajar beerenang kadang –kadang kami membuat rakit dari pohon pisang yang sidah tidak berbuah.Kami paku dengan bamboo atau pohon lainnya.kami mincing di atas rakit itu.

Kalau kami ingin uang biasanya kami mencari udang dengan cara ngawaring dengan umpan dedak yang halus.Setelah kami mengumpulkan udang ,kami bungkus dengan daun pisang satu bungkusnya dua ratus rupiah.Uangnya nanti kami kumpulkan dan kami bagi –bagi ke teman teman yang mengambil udang tadi.Kalau kami malas mencari udang biasanya kami marak (membendung selokan ) di selokan belakang cekdam kami biasanya mendapatkan ikan lele, mujair , nila dan udang batu yang hitam.Pulang marak kami melakukan botram (makan bersama) untuk menikmati hasil tangkapan ikan tadi .kadang –kadang kami masak –masak dengan teman-teman di pinggir cekdamnya.Biasanya kami main main tersebut waktu libur sekolah.

Tapi cekdam sekarang tinggal kenangan terganti dengan sawah dan kebun .Hanya masalalu yang tak terlupakan waktu kecil dahulu bersama dengan teman – teman.Kesejukan airnya kini hanya impian rimbunan pohon dukuh juga hanya kenagan karena tinggal bekasnya saja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...