Langsung ke konten utama

BUKAN MASALAH YANG BESAR TAPI HATI SEDANG SEMPIT

Darmareja,6-4-2017.Saya masih ingat sebuah buku yang mengisahkan seorang pemuda yang datang kepada seorang kakek dengan segudang permsalahanya.Pemuda itu menceritakan masalahnya kepada kakek itu ,dengan tenang kakek itu mendengar segala keluhan pemuda itu .Kakek itu terus memancing supaya anak muda itu menceritakan atau mengeluarkan segala permasalahan yanag ada di hatinya.

Setelah lama anak muda itu bercerita panjang lebar masalahnya.Kakek itu pergi ke dapur dengan membawa segenggam garam dan segelas air .Dihadapan anak muda itu garam dan air disatukan dalam gelas tersebut menjadi larutan garam.Kakek itu menyuruh anak muda itu untuk meminumnya,tentu anak muda itu tidaka kuat meminum larutan garam tersebut karena terlalu asin .

Sekarang kakek itu membawa anak muda itu ke tepian danau yang luas dan dalam yang dekat dari rumah kakek tersebut.Kakek itu membawa segenggam garam dan menaburkan garam tersebut ke danau.Kakek itu mengambil segelas air danau tersebut dan menyuruh meminumnya kepada pemuda tersebut.Pemuda itu dengan senang hati meminumnya karena tidak merasa asin dan pahit ,rasanya sangat tawar dan dinggin .

Setelah kejadian tersebut pemuda itu bertanya kepada kakek apa masksudnya dengan semua itu.kakek itu pun menjawab ‘’anak muda !sebenarnya bukan masalahnya yang besar masalah kamu itu sama dengan orang lain bahakan lebih kecil dari orang lain ,Cuma jiwa kamu saja yang kecil atau kerdil.Bila jiwa kamu kerdil sepeti segenggam garam didalam air segelas tadi rasanya akan asin sekali bahkan pahit,tapi kalau jiwa kamu besar masalah apapun seperti segenggam garam di danau tadi tidak akan terasa .”

“Jadi nak yang harus kamu perhatikan sekarang adalah berjiwa besar dahulu.Insya Allah semua masalah akan biasa –biasa saja.semua orang pasti memiliki masalhanya masing-masing hasa saja bagaimana menyikapinya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...