Langsung ke konten utama

MUSAFIR DAN KEADILAN ALLAH



Saya masih ingat cerita  waktu di sekolah dasar dahulu. Seorang musafir berjalan jauh diterik panas matahari  dia mencari tempat berlindung dari sengatan matahari  yang membakar tubuhnya.Keringat membasahi pakaian dan badannya.Dia terus berjalan hingga di suatu tempat yang teduh  karena ada sebuah pohon besar yang tegak berdiri di pinggir jalan  sebagai tempat peristirahatan  seluruh musafir .


Musafir itu berteduh dibawah pohon beringin  yang rimbun  pohonya yang besar dahannya yang kuat dan daunya yang lebat.Sambil melepas lelah dari perjalanan yang jauh dia duduk diatas akar beringin sambil  bersandar ke pohonya dan memandang ke atas pohon beringin itu .Angin yang  berhembus  seperti kipas alam yang  meniupi  keringat musafir tersebut membuat musafir itu betah  beristirahat di bawah pohon beringin itu.
Hasil gambar untuk pohon beringinSuasan yang segar dan nyaman ditemani kicau  burung yang  terbang  dan bertengger ada yang saling berkejaran dengan teman-temannya,mengantar musafir ini  kelamunan yang  panjang kesana- kemari.Dalam lamunan  tersebut  musafir itu seperti menggrutu dengan  pemandangan yang ada dihadapannya ,seakan dia protes   dengan apa yang dia lihat .Ternyata dia melihat pohon beringin sedang berbuah lebat sekali   sambil tiduran dia menengadah ke  atas pohon itu .Dia tidak sadar berbicara sendiri. “Pohon beringin yang kuat hebat besar  tapi  buahnya ko kecil –keci  sedangkan  pohon  melon dan labuh ,pohonnya  kecil tapi buahnya  ko besar-besar .Sungguh Tuhan tidak adil.Kalau saya  penciptanya saya akan balikan pohon beringin buahnya besar dan melon atau labuh  buahnya kecil –kecil. Adilkan?.”kata musafir itu  sambil mungusap keringat di pipinya.Baru sampai dikahir ucapannya .Peletak sebutir buah pohon beringin jatuh pas kena hidungnya  musafir itu kaget  sekali.

Musafir itu  bangkit dari tidurannya sambil memungut  buah beringin yang menimpa hidungnya tadi  sambil mengatakan “untung buah beringin  kecil coba kalau besar , sebesar buah melon atau labuh  bisa hancur  hidung dan muka saya.Tuhan memang adil.Dia langsung mengucapkan  Astagpirullah al adim .Tuhan benar-benar adil.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kejutan Manis di Hari Ulang Tahun: Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Murid-Murid Tercinta

Tanggal 17 September selalu menjadi hari yang istimewa bagi saya, karena hari itu adalah hari ulang tahun saya. Namun, tahun ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terasa jauh lebih berkesan dan membekas dalam ingatan. Semua itu terjadi berkat kejutan yang luar biasa dari anak-anak didik saya di sekolah, yang dengan penuh cinta dan kreativitas berhasil membuat hari itu menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Seperti biasa, pagi itu saya datang ke sekolah dengan perasaan yang tenang. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya memasuki kelas dengan pikiran bahwa hari ini akan berlangsung seperti biasanya: mengajar, berbagi ilmu, dan mendampingi anak-anak menimba pengetahuan. Namun, ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu di balik diam-diam mereka. Begitu saya membuka pintu kelas, tiba-tiba terdengar bunyi “plop!”—sebuah balon meletus tepat di dekat pintu. Seketika ruangan dipenuhi tawa riang dan sorak-sorai murid-murid saya. Saya terkejut, nam...

Tanjakan Lemah Duhur yang Membahayakan Pengendara

  Pagi itu saya berangkat seperti biasa menuju sekolah untuk mengajar. Saya pergi bersama istri dan kedua anak saya menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika kami melewati tanjakan Lemah Duhur. Kondisi jalan di lokasi tersebut memang sudah lama rusak. Aspalnya banyak yang botak, batu split berserakan, dan permukaannya sangat licin, terutama saat pagi hari. Ketika motor mulai menanjak, ban motor saya tiba-tiba tergelincir akibat kerikil lepas di jalan. Saya berusaha mengendalikan motor dengan menarik rem, namun karena posisi motor sudah miring, kami akhirnya tetap terjatuh. Dalam keadaan panik, saya langsung berusaha menyelamatkan anak laki-laki saya yang duduk di depan. Sementara itu, istri saya jatuh sambil menggendong anak perempuan kami yang masih kecil. Syukurlah kami tidak mengalami luka serius, meskipun kejadian tersebut cukup membuat trauma dan khawatir. Setelah kejadian itu, saya mengetahui bahwa ...

Menengok Teman yang Sakit di Kampung Cibubuay

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2026, kami siswa kelas 5 pergi menengok teman kami yang sedang sakit di Kampung Cibubuay. Kami pergi bersama-sama dengan penuh semangat dan rasa peduli kepada teman. Perjalanan menuju rumah Gustandi sangat menyenangkan. Kami melewati gang-gang kecil, jalan setapak, dan pematang sawah yang indah. Di tengah perjalanan, kami juga sempat bertemu ular sawah. Walaupun sedikit takut, kami tetap melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami menemukan rumah Gustandi. Kami bersyukur karena keadaan Gustandi sudah agak sehat walaupun belum pulih seratus persen. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan memberi semangat agar ia cepat sembuh. Tidak lama kemudian, langit mulai mendung. Karena khawatir hujan turun, kami memutuskan untuk segera pulang. Benar saja, ketika kami sampai di tengah perjalanan, hujan turun sangat lebat hingga membuat kami basah kuyup. Saat berangkat kami berjalan bersama-sama, tetapi ketika pulang kami b...